SEMARANG, beritajateng.tv – Pesantren Ramadan Rohis Indonesia kembali digelar di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang dan menjadi magnet bagi ribuan pelajar.
Tahun ini, sekitar 7.000 siswa-siswi dari jenjang SD, SMP hingga SMA se-Kota Semarang turut mengikuti pembukaan, bersama pengurus Rohis dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan tahunan yang memasuki penyelenggaraan kedua ini menghadirkan 78 peserta perwakilan dari 34 provinsi. Mereka terdiri atas satu Duta Wakaf di tiap provinsi, pengurus Rohis Indonesia (dua hingga tiga orang per provinsi), serta Rohis Army, tim pelajar kreatif yang aktif memproduksi konten dakwah di media sosial.
Selain itu, 35 pengurus Rohis wilayah Jawa Tengah juga terlibat aktif dalam kegiatan yang berlangsung selama empat hari.
Kasubdit PAI SMA/SMALB dan SMK Kementerian Agama RI, Lelis Tsuroya, menyebut kegiatan ini harapannya menjadi teladan sekaligus penggerak di daerah masing-masing.
“Ini menjadi teladan untuk para siswa yang lain khususnya di bulan Ramadan ini. Rohis Indonesia ini kami undang dari seluruh Indonesia dari 34 provinsi dan mudah-mudahan nanti bisa menjadi penggerak di provinsinya masing-masing,” ujarnya usai pembukaan Pesantren Ramadan Rohis Indonesia di Masjid Agung Jawa Tengah pada Kamis, 5 Maret 2026.
Gencarkan Wakaf Produktif Unruk Literasi Ekonomi Umat
Salah satu momen penting dalam rangkaian kegiatan adalah peluncuran program Wakaf Rohis Indonesia. Program ini sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam menguatkan literasi dan aksi wakaf di kalangan generasi muda.
“Gerakan zakat dan wakaf, khusus Wakaf Produktif, ini menjadi bagian dari visi misi Kementerian Agama saat ini. Karena wakaf ini potensinya sangat besar sekali untuk pemberdayaan ekonomi umat. Di sini Rohis Indonesia sebagai generasi muda harus memiliki literasi ataupun aksi terkait dengan wakaf ini,” jelas Lelis.
BACA JUGA: Dorong Masjid Gunakan QRIS untuk Zakat dan Sedekah, BI Jateng Siapkan Hadiah Hewan Kurban
Ia berharap launching wakaf tersebut menjadi semangat baru bagi Rohis di seluruh Indonesia untuk aktif berkontribusi dalam penguatan ekonomi umat berbasis filantropi Islam.
MAJT Jadi Pusat Pembinaan Rohis Nasional
Dipilihnya MAJT sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Menurut Lelis, fasilitas yang terintegrasi menjadi pertimbangan utama.
“Program tahunan ini Pesantren Ramadan Rohis Indonesia yang kedua. Yang pertama juga di sini. Karena SDM dan juga fasilitas di sini sangat memadai. Masjidnya terintegrasi, ada tempat penginapan, fasilitas manasik haji, dan sangat kondusif untuk pelatihan,” ungkapnya.
Materi kegiatan diisi melalui kolaborasi Kementerian Agama, MAJT, dan AGPAII. Selama empat hari, peserta mengikuti kajian kitab, literasi wakaf, hingga sesi “Rohis Penuh Cinta” yang mengusung lima dimensi cinta sebagaimana digaungkan Kemenag, agar Gen Z mampu memaknai peran mereka secara lebih luas dan bermakna.
Selain itu, panitia juga mengintegrasikan gerakan ekoteologi melalui penanaman 70 pohon klengkeng yang nantinya akan ditanam di sekolah masing-masing peserta.
Pesan Penguatan Karakter ala Jepang
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Kemenag RI Prof. Phil. Kamaruddin Amin mengajak para pelajar PAI meneladani penguatan karakter seperti yang ada di Jepang.
“Di Jepang, anak-anak diajarkan mencintai diri sendiri, mulai dari menjaga kesehatan, meningkatkan literasi hingga pendidikan. Karena itu karakter masyarakat Jepang sangat kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya pelajar untuk terus meningkatkan nilai diri.
“Pelajar PAI harus melakukan segala sesuatu untuk menambah value. Tambahkan nilai, prestasi, dan kemampuan. Jika itu terlaksana, maka kalian tidak akan mengalami kesulitan di masa depan,” pungkasnya.
Antusiasme siswa-siswi terlihat sejak pagi. Tsania Qutrotun Nida, siswi kelas 8 SMPN 33 Semarang yang mengikuti pembukaan sejak pukul 07.30 WIB, mengaku senang bisa hadir di tengah ribuan pelajar dari berbagai daerah.
“Sangat senang saat mendatangi acara Pesantren Ramadan Rohis Indonesia. Ketemu sama teman-teman dari seluruh Indonesia rasanya senang banget,” ujarnya.
Meski hanya mengikuti acara pembukaan, Tsania mengaku ingin mengikuti kegiatan Pesantren Ramadan Rohis Indonesia di tahun selanjutnya.
“Tergantung sekolahnya juga ya diizinkan atau enggak. Tapi kalau ikut, ya pingin ikut pesantrennya,” ungkapnya.
BACA JUGA: Semangat Mengaji di Usia Senja, Kisah Santri Lansia Mondok Saat Ramadhan di Banyubiru
Sementara itu, Guru Pendamping SMPN 33 Semarang, Dwi Widyaningsih, menyebut sekolahnya mengirim 24 siswa untuk mengikuti pembukaan Pesantren Ramadan Rohis Indonesia.
“Hari ini kami mengikuti dari pagi sampai agak sore. Tadi mulai dari pembukaan, sambutan dari sekretaris, dari kementerian, kemudian dari ketua Rohis. Itu sangat luar biasa,” katanya. (*)
Editor: Farah Nazila





