SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah buka suara perihal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah akibat kemarau panjang.
Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, sepanjang Januari hingga 9 Agustus 2026 tercatat 166 kejadian karhutla. Kebakaran tersebut berdampak pada sedikitnya 306 hektare hutan dan lahan yang tersebar di 32 kabupaten/kota.
Wilayah yang tercatat mengalami kejadian karhutla antara lain Grobogan, Blora, dan Sragen. Kebakaran juga terjadi di kawasan Pantura seperti Pemalang serta sejumlah wilayah pegunungan dan dataran tinggi, termasuk Magelang, Klaten, dan Karanganyar.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen alias Gus Yasin, membenarkan adanya karhutla di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Ia mengaku menerima laporan kebakaran, di antaranya dari Wonogiri hingga Kabupaten Kudus.
Saat beritajateng.tv temui di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Senin, 24 Agustus 2026, Gus Yasin mengatakan kondisi kemarau yang semakin panas dan kering perlu ԁiantisipasi bersama.
“Kalau kebakaran hutan dan lahan memang ada di beberapa. Kemarin saya dapat laporan dari Wonogiri, dari Kabupaten Kudus,” ujar Gus Yasin.
BACA JUGA: Kapolres Semarang Perintahkan Pemetaan Wilayah Rawan Karhutla, Patroli Ditingkatkan
Menurutnya, kondisi cuaca yang semakin panas dan kekeringan membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Yang jelas kita harus antisipasi karena saat ini semakin ekstrem panasnya dan kekeringan itu sudah kita rasakan betul, maka memang kita harus menjaga betul,” katanya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Gus Yasin adalah kebiasaan masyarakat yang masih membuang puntung rokok sembarangan. Ia secara khusus meminta para perokok tidak asal melempar puntung rokok, terutama di tengah kondisi lahan yang kering akibat kemarau.
“Khususnya para perokok. Nah, ini jangan buang puntung rokok asal ԁilempar aja. Karena itu bisa menyebabkan akibat kebakaran, salah satunya dari itu,” tandasnya.
Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan mengungkap kerugian dari dampak kejadian karhutla mencapai miliaran rupiah. Jumlah kerugian yang lebih besar muncul dari kebakaran pemukiman dan gedung.
Bergas mengungkapkan, berdasarkan hasil pemetaan dampak karhutla, ԁiperkirakan nilai kerugian materiil mencapai Rp1,7 miliar. Sedangkan untuk kebakaran permukiman dan gedung yang berjumlah 281 kejadian. Untuk kerugian mencapai Rp31,7 miliar.
BACA JUGA: Prakiraan Cuaca Jawa Tengah 6 Agustus 2026, BMKG Ingatkan Potensi Karhutla dan Gelombang 4 Meter
“Kerugian untuk hutan lahan ini sebesar Rp1,7 miliar. Kalau gedung sama permukiman yang kebakaran kerugiannya sampai Rp31,7 miliar,” tutur Bergas, Rabu, 19 Agustus 2026.
Bergas menjelaskan, area hutan dan lahan yang terkena imbas kebakaran selama musim kemarau panjang tahun ini dari data BPBD Jawa Tengah seluas 306 hektare.
Secara rinci, katanya jumlah kejadian karhutla sepanjang Januari hingga 9 Agustus 2026 sebanyak 166 kali. Di samping itu, kata Bergas, karhutla telah melanda 32 kabupaten/kota yang mana wilayah Pantura Timur yang kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan. Seperti Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Sragen.
Spot-spot kebakaran juga terpantau di kawasan Pantura seperti Pemalang, serta wilayah pegunungan dan dataran tinggi seperti Magelang, Klaten, dan Karanganyar.
Lahan yang kerap terbakar, lanjutnya ԁidominasi areal perkebunan tebu. Perilaku para petani tebu yang sering membakar lahan pasca panen turut berkontribusi menimbulkan maraknya kebakaran lahan belakangan ini. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





