“Kami akan membangun dan memperbanyak embung di tanah milik Pemkot. Tujuannya untuk mengurangi tekanan air ke tanah dan menahan limpasan agar tidak langsung turun ke Semarang bawah,” kata Agustina.
Selain embung, Pemkot juga mempertimbangkan pembuatan sodetan sungai sebagai bagian dari pengendalian aliran air.
“Kami ingin mengurangi beban sungai utama. Dengan sodetan, aliran air bisa terbagi, seolah-olah kita membuat alur sungai baru supaya tekanannya tidak terlalu tinggi,” tambahnya.
Data BPBD Kota Semarang menunjukkan, sejak awal Januari hingga Kamis, 5 Februari 2026, telah terjadi 55 kejadian bencana di wilayah Kota Semarang. Dari jumlah tersebut, bencana tanah longsor dan tanah amblas menjadi kasus terbanyak. (*)
Editor: Elly Amaliyah




