Jateng

Marak Longsor dan Tanah Geser, Pemkot Semarang Wacanakan Pembangunan Embung

×

Marak Longsor dan Tanah Geser, Pemkot Semarang Wacanakan Pembangunan Embung

Sebarkan artikel ini
Tanah Bergerak
Kondisi jalan di Kampung Sekip Kelurahan Jangli Kecamatan Tembalang yang patah akibat pergeseran tanah, Jumat, 6 Februari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang mewacanakan pembangunan sejumlah embung di wilayah atas kota sebagai langkah mitigasi bencana hidrometeorologi.

Hal ini menyusul maraknya peristiwa tanah geser, longsor, dan banjir yang terjadi di berbagai titik dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah kawasan di Semarang bagian atas, seperti Jangli, Ngesrep, dan Pudak Payung, tercatat mengalami pergeseran tanah dengan tingkat kerusakan yang cukup serius.

Di sisi lain, wilayah Semarang bawah masih kerap tergenang banjir saat intensitas hujan tinggi. Kondisi ini mendorong Pemkot Semarang untuk segera menyiapkan langkah penanganan jangka menengah dan panjang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengaku prihatin dengan rangkaian bencana yang melanda Ibu Kota Jawa Tengah tersebut.

Ia menegaskan perlunya respons cepat dari seluruh perangkat daerah terkait.

“Tentu kami prihatin. Saya sudah meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk bergerak cepat menangani lokasi-lokasi terdampak,” ujar Agustina, Senin, 9 Februari 2026.

Menurut Agustina, penanganan awal sebenarnya telah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang. Namun, langkah tersebut masih bersifat sementara dan belum menyentuh solusi struktural.

BACA JUGA: Tanah Bergerak di Kampung Sekip Semarang, Rumah Warga Geser dan Roboh Usai Hujan Deras

“BPBD hanya bisa melakukan penanganan darurat, seperti menutup longsoran agar tidak semakin parah. Untuk pekerjaan teknis seperti bronjong dan penanganan permanen, itu menjadi kewenangan DPU,” jelasnya.

Agustina menilai, salah satu penyebab utama meningkatnya bencana longsor dan banjir di Semarang adalah berkurangnya lahan resapan air serta minimnya vegetasi, terutama di wilayah atas kota yang memiliki kontur perbukitan.

Air hujan yang tidak terserap optimal akhirnya meningkatkan tekanan tanah dan mengalir deras ke kawasan bawah.

Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Semarang berencana memperbanyak pembangunan embung, khususnya di lahan milik pemerintah kota yang berada di wilayah atas.

“Kami akan membangun dan memperbanyak embung di tanah milik Pemkot. Tujuannya untuk mengurangi tekanan air ke tanah dan menahan limpasan agar tidak langsung turun ke Semarang bawah,” kata Agustina.

Selain embung, Pemkot juga mempertimbangkan pembuatan sodetan sungai sebagai bagian dari pengendalian aliran air.

“Kami ingin mengurangi beban sungai utama. Dengan sodetan, aliran air bisa terbagi, seolah-olah kita membuat alur sungai baru supaya tekanannya tidak terlalu tinggi,” tambahnya.

Data BPBD Kota Semarang menunjukkan, sejak awal Januari hingga Kamis, 5 Februari 2026, telah terjadi 55 kejadian bencana di wilayah Kota Semarang. Dari jumlah tersebut, bencana tanah longsor dan tanah amblas menjadi kasus terbanyak. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp