Politisi PDI Perjuangan tersebut juga berharap masyarakat tetap menerapkan prokes selama masa transisi menuju endemi. “Meski ada pelonggaran tapi tetap dalam batasan. Tidak serta merta bebas dan prokes tetap jalan. Dengan begitu, roda perekonomian bisa tetap berjalan dan penularan dapat ditekan,” paparnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang Dwi Syaiful Noor Hidayat mengatakan endemi memiliki pengertian penyakit yang muncul dan menjadi karakteristik di wilayah tertentu, contohnya seperti malaria di Papua. Sedangkan pandemi merupakan wabah penyakit yang terjadi serempak dimana-mana dan meliputi daerah geografis yang luas.
Dia menambahkan, penanganan pada pasien yang terinfeksi Covid-19 saat pandemi dan endemi juga berbeda. Di masa pandemi, penanganan pasien Covid-19 yang masuk RS difokuskan pada upaya membunuh virus Corona.
“Nanti saat endemi, yang diobati adalah gejalanya. Kalau batuk, diobati batuknya. Jika pilek, diobati pileknya,” ujarnya.
Dikatakannya, puncak gelombang ketiga Covid-19 akibat munculnya varian Omicron Februari lalu sudah diperkirakan sebelumnya. Namun lonjakan kasus Omicron tidak sedahsyat varian Delta yang menyebabkan RS penuh hingga oksigen habis.
Dwi menambahkan, menurunnya kasus Covid-19 sehingga pemerintah menyusun roadmap menuju endemi ikut dipengaruhi tingginya vaksinasi. Saat ini sudah 98,48 persen warga di Kabupaten Semarang sudah menerima suntikan vaksin dosis pertama. Sedangkan warga yang sudah divaksin dosis kedua mencapai hampir 97 persen.
“Vaksinasi di Kabupaten Semarang sudah melebihi syarat yang ditentukan untuk tercapainya kekebalan komunitas, yaitu melebihi 70 persen,” katanya.
Meski begitu, dia menyebut ada satu titik rawan. Yaitu menjelang lebaran saat mobilitas warga akan meningkat karena tradisi mudik. Dia meminta masyarakat tetap menjaga prokes agar tak terjadi gelombang keempat Covid-19.
Dwi meminta setiap individu menjaga kehati-hatian masing-masing. Sebab, meski sebagian besar gejalanya ringan, Omicron tetap berisiko jika menjangkiti lansia, bayi, balita, dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.





