Juminten dengan cekatan membolak-balik bolang-baling menggunakan sutil panjang hingga seluruh permukaannya berubah kuning keemasan. Asap tipis dari kayu bakar mengepul perlahan, sementara pelanggan satu per satu mulai berdatangan untuk membeli jajanan yang baru saja matang.
Meski zaman sudah berubah, mereka memilih tetap menggunakan kayu bakar. Selain menghasilkan cita rasa yang teranggap lebih nikmat, alasan lainnya cukup sederhana.
“Kami masih pakai kayu bakar karena takut pakai gas,” tutur Juminten.
Harga Tetap Ramah di Kantong
Harganya pun tetap ramah di kantong. Dengan Rp10 ribu, pembeli bisa membawa pulang sekitar 15 buah bolang-baling. Sementara Rp5 ribu sudah mendapatkan sekitar tujuh hingga delapan buah.
Lapak sederhana ini mulai buka setiap hari setelah Maghrib, sekitar pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Jika dagangan belum habis, Rebo akan berkeliling menjajakannya hingga kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Di balik usaha sederhana tersebut, tersimpan kisah cinta yang ikut menghangatkan tungku kayu bakar mereka. Juminten dan Rebo justru dipertemukan ketika sama-sama berjualan bolang-baling. Pertemuan itu kemudian berlanjut ke pelaminan hingga kini keduanya tetap bekerja berdampingan melayani pelanggan.
Usia yang tak lagi muda tidak menyurutkan semangat mereka mencari nafkah. Di tengah menjamurnya aneka jajanan modern, pasangan asal Surakarta ini tetap mempertahankan resep, cara memasak, dan harga yang bersahabat.
Bagi warga Semarang, bolang-baling bukan sekadar camilan sore. Jajanan ini menjadi pengingat bahwa kelezatan kuliner legendaris sering kali tersembunyi di sudut-sudut permukiman. terjaga oleh tangan-tangan yang telah puluhan tahun setia mempertahankan tradisi.
Salah satunya Zulfa Arina, pelanggan yang mengetahui hidden gem bolang-baling ini dari media sosial.
“Aku tahunya dari Instagram. Ini beli bolang-baling sama cakwe. Ini beli Rp15.000 sama Rp10.000, dapat banyak banget,” ujarnya sembari menunjukkan bolang-baling yang telah ia beli.





