SEMARANG, beritajateng.tv – Di sebuah rumah bercat oranye di Jalan Citarum Selatan IV, Kota Semarang, aroma khas kayu bakar setiap sore menjadi penanda mulainya aktivitas pasangan suami istri, Juminten (67) dan Rebo (69).
Selama 35 tahun terakhir, keduanya setia menjajakan bolang-baling dan cakwe dengan cara yang nyaris tak berubah sejak pertama kali berjualan.
Tempat ini bukan toko besar ataupun pusat kuliner yang ramai dipromosikan. Namun bagi pelanggan lama, rumah sederhana tersebut merupakan hidden gem yang selalu terindukan ketika ingin menikmati bolang-baling hangat dengan cita rasa tradisional.
Setiap hari sekitar pukul 15.00 WIB, Rebo mulai menguleni adonan tepung dalam wadah besar. Dengan tangan yang sudah puluhan tahun terbiasa bekerja, ia terus menekan, melipat, dan mengaduk adonan hingga kalis sebelum didiamkan beberapa saat.
“Jam 3 sore nguleni adonan, goreng, selesai jam 7-an habis isya,” ujar Juminten sembari memasukkan potongan adonan ke wajan besar.
BACA JUGA: Waspada! Hujan Lebat dan Angin Kencang di 4 Kabupaten Jawa Tengah Siang Ini
Setelah mengembang, adonan bolang-baling dipotong-potong menjadi ukuran kecil yang nantinya berubah menjadi bolang-baling dan cakwe berwarna keemasan. Aktivitas itu dilakukan hampir tanpa jeda, menjadi rutinitas yang telah mereka jalani selama tiga setengah dekade.
Dalam tiga hari atau tiga malam berjualan, pasangan ini menghabiskan sekitar 53 kilogram tepung. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa peminat jajanan sederhana ini masih cukup tinggi.
“Biasanya ya 53 [kilogram] tepung itu buat tiga hari, tiga malam lah. Berapa [kilogram] itu per harinya?” ujarnya sambil bertanya.
Menjelang Maghrib, bara kayu bakar mulai menyala di tungku. Di atasnya, wajan besar berisi minyak perlahan memanas. Saat potongan adonan dimasukkan, suara gemericik minyak langsung berpadu dengan aroma kayu bakar yang khas, menciptakan wangi yang sulit ditemukan pada proses memasak menggunakan kompor gas.





