Kuliner

Masih Pakai Kayu Bakar, Hidden Gem Bolang-Baling Legendaris Semarang Sejak 35 Tahun Lalu

×

Masih Pakai Kayu Bakar, Hidden Gem Bolang-Baling Legendaris Semarang Sejak 35 Tahun Lalu

Sebarkan artikel ini
suami istri jual bolang baling
Pasangan suami istri Juminten dan Rebo yang semangat berjualan bolang-baling di rumahnya di Jalan Citarum Selatan IV, Kota Semarang, Jumat, 10 Juli 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di sebuah rumah bercat oranye di Jalan Citarum Selatan IV, Kota Semarang, aroma khas kayu bakar setiap sore menjadi penanda mulainya aktivitas pasangan suami istri, Juminten (67) dan Rebo (69).

Selama 35 tahun terakhir, keduanya setia menjajakan bolang-baling dan cakwe dengan cara yang nyaris tak berubah sejak pertama kali berjualan.

Tempat ini bukan toko besar ataupun pusat kuliner yang ramai dipromosikan. Namun bagi pelanggan lama, rumah sederhana tersebut merupakan hidden gem yang selalu terindukan ketika ingin menikmati bolang-baling hangat dengan cita rasa tradisional.

Setiap hari sekitar pukul 15.00 WIB, Rebo mulai menguleni adonan tepung dalam wadah besar. Dengan tangan yang sudah puluhan tahun terbiasa bekerja, ia terus menekan, melipat, dan mengaduk adonan hingga kalis sebelum didiamkan beberapa saat.

“Jam 3 sore nguleni adonan, goreng, selesai jam 7-an habis isya,” ujar Juminten sembari memasukkan potongan adonan ke wajan besar.

BACA JUGA: Waspada! Hujan Lebat dan Angin Kencang di 4 Kabupaten Jawa Tengah Siang Ini

Setelah mengembang, adonan bolang-baling dipotong-potong menjadi ukuran kecil yang nantinya berubah menjadi bolang-baling dan cakwe berwarna keemasan. Aktivitas itu dilakukan hampir tanpa jeda, menjadi rutinitas yang telah mereka jalani selama tiga setengah dekade.

Dalam tiga hari atau tiga malam berjualan, pasangan ini menghabiskan sekitar 53 kilogram tepung. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa peminat jajanan sederhana ini masih cukup tinggi.

“Biasanya ya 53 [kilogram] tepung itu buat tiga hari, tiga malam lah. Berapa [kilogram] itu per harinya?” ujarnya sambil bertanya.

Menjelang Maghrib, bara kayu bakar mulai menyala di tungku. Di atasnya, wajan besar berisi minyak perlahan memanas. Saat potongan adonan dimasukkan, suara gemericik minyak langsung berpadu dengan aroma kayu bakar yang khas, menciptakan wangi yang sulit ditemukan pada proses memasak menggunakan kompor gas.

Juminten dengan cekatan membolak-balik bolang-baling menggunakan sutil panjang hingga seluruh permukaannya berubah kuning keemasan. Asap tipis dari kayu bakar mengepul perlahan, sementara pelanggan satu per satu mulai berdatangan untuk membeli jajanan yang baru saja matang.

Meski zaman sudah berubah, mereka memilih tetap menggunakan kayu bakar. Selain menghasilkan cita rasa yang teranggap lebih nikmat, alasan lainnya cukup sederhana.

“Kami masih pakai kayu bakar karena takut pakai gas,” tutur Juminten.

Harga Tetap Ramah di Kantong

Harganya pun tetap ramah di kantong. Dengan Rp10 ribu, pembeli bisa membawa pulang sekitar 15 buah bolang-baling. Sementara Rp5 ribu sudah mendapatkan sekitar tujuh hingga delapan buah.

Lapak sederhana ini mulai buka setiap hari setelah Maghrib, sekitar pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Jika dagangan belum habis, Rebo akan berkeliling menjajakannya hingga kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Di balik usaha sederhana tersebut, tersimpan kisah cinta yang ikut menghangatkan tungku kayu bakar mereka. Juminten dan Rebo justru dipertemukan ketika sama-sama berjualan bolang-baling. Pertemuan itu kemudian berlanjut ke pelaminan hingga kini keduanya tetap bekerja berdampingan melayani pelanggan.

Usia yang tak lagi muda tidak menyurutkan semangat mereka mencari nafkah. Di tengah menjamurnya aneka jajanan modern, pasangan asal Surakarta ini tetap mempertahankan resep, cara memasak, dan harga yang bersahabat.

Bagi warga Semarang, bolang-baling bukan sekadar camilan sore. Jajanan ini menjadi pengingat bahwa kelezatan kuliner legendaris sering kali tersembunyi di sudut-sudut permukiman. terjaga oleh tangan-tangan yang telah puluhan tahun setia mempertahankan tradisi.

Salah satunya Zulfa Arina, pelanggan yang mengetahui hidden gem bolang-baling ini dari media sosial.

“Aku tahunya dari Instagram. Ini beli bolang-baling sama cakwe. Ini beli Rp15.000 sama Rp10.000, dapat banyak banget,” ujarnya sembari menunjukkan bolang-baling yang telah ia beli.

BACA JUGA: Rekomendasi Kuliner Semarang yang Cukup Ikonik, Cocok Jadi Buah Tangan untuk Keluarga

Menurut Zulfa, bolang-baling ini memiliki rasa yang pas, tidak terlalu manis dan tidak terlalu keras. Selain itu, harganya juga ramah di kantong.

“Enak, enak banget. Enggak kemanisan, pas hangat-hangat baru digoreng gini enak. Terus harganya juga murah. Aku beli di tempat lain Rp1.500 per biji. Ini aku beli segini banyaknya cuma Rp10.000,” tutur Zulfa. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp