“Saya yakin pondok yang bukan dibuat oleh masyayikh itu rasanya beda. Walaupun sistem asramanya baik namun tidak bisa sama dengan ponpes yang didirikan masyayikh,” tandasnya.
Lebih jauh, Taj Yasin mengingatkan kepada para santri agar tidak mudah terhasut dengan ajaran-ajaran yang mengarah pada perpecahan negara. Baginya, ajaran-ajaran tersebut, tidak sesuai dengan landasan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menambahkan, pembina Ponpes Syubbanul Wathon Tegalrejo, KH. Muhammad Yusuf Chudlori, mengatakan dalam belajar di ponpes, santri diajarkan untuk terus mengaji. Agar, lanjutnya, mereka memiliki pemahaman agama yang utuh, sebagai pondasi kuat.
“Jadi khatam itu bukan berarti selesai namun merupakan tahapan yang harus dilanjutkan ke tahapan berikutnya. Di manapun anda (santri) berada, jangan lupa NKRI harga mati. Jangan sampai nanti terpapar paham yang lagi merebak. Banyak pengasong Khilafah di mana-mana,” tegas Gus Yusuf, sapaan akrabnya. (Ak/El)