SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, ketenangan batin dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan menjadi hal yang semakin penting.
Nilai-nilai tersebut menjadi pesan yang Kanjeng Pangeran Noto Winasis angkat bersama Padepokan Ratu Niang Sakti melalui pendekatan yang terinspirasi dari tradisi spiritual Bali dan filosofi Jawa.
Keduanya memperkenalkan kearifan leluhur sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini.
Pesan yang dia usung tidak hanya berkaitan dengan tradisi dan ritual, tetapi juga menyangkut pengendalian diri, penghormatan terhadap sesama, serta upaya menjaga keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Berikut Filosofi Lebaran Ketupat, Tradisi Turun Temurun pada Era Wali Songo
“Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga mengandung nilai moral, penghormatan terhadap leluhur, dan ajakan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana,” ujar Kanjeng Pangeran Noto Winasis.
Menurutnya, kearifan tradisi dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan.
Nilai-nilai yang diwariskan generasi terdahulu dapat dimaknai sebagai pengingat agar seseorang tidak terburu-buru dalam bertindak dan tetap mempertimbangkan dampak keputusannya terhadap orang lain.
Padepokan Ratu Niang Sakti Tawarkan Pendampingan Spiritual
Padepokan Ratu Niang Sakti hadir sebagai ruang pelayanan dan pendampingan spiritual bagi masyarakat yang ingin mencari ketenangan batin. Pendampingan tersebut mencakup persoalan rumah tangga, hubungan antarmanusia, perjalanan karier, usaha, hingga pergulatan pribadi.
Dalam penjelasannya, nama Ratu Niang Sakti memiliki keterkaitan dengan tradisi spiritual Hindu Bali.
Sosok yang juga terkenal sebagai Ida Bhatari Ratu Niang Lingsir di hormati dalam tradisi keagamaan masyarakat Bali. Salah satu tempat pemujaan yang berkaitan dengan sosok tersebut berada di Pura Griya Anyar Tanah Kilap, Denpasar.
Dalam perkembangan praktik spiritual kontemporer. Nama Ratu Niang Sakti juga sejumlah praktisi spiritual gunakan, termasuk Romo RN yang berkait dengan pendirian Padepokan Ratu Niang Sakti.
Padepokan tersebut mengangkat inspirasi tradisi leluhur Bali dan khazanah spiritual Jawa.
Perpaduan itu menggambarkan keragaman ekspresi budaya Nusantara yang memiliki simbol, filosofi, dan nilai kehidupan masing-masing.
Padepokan Ratu Niang Sakti juga memperkenalkan layanan ritual dan pendampingan spiritual yang tertuju bagi masyarakat sesuai kebutuhan serta keyakinan masing-masing.
Filosofi Jawa Jadi Pengingat untuk Menata Kehidupan
Selain tradisi spiritual Bali, filosofi Jawa menjadi bagian penting dari pesan yang dibawa Kanjeng Pangeran Noto Winasis.
Nama “noto” dalam pemaknaan bahasa Jawa berkaitan dengan tindakan menata atau mengatur, sedangkan “winasis” merujuk pada kecakapan, pengetahuan, dan kebijaksanaan.
Filosofi tersebut memiliki makna sebagai ajakan untuk menata kehidupan dengan ilmu, kejernihan pikiran, dan pertimbangan yang matang.
Dengan begitu, seseorang diharapkan mampu menghadapi persoalan tanpa mengabaikan tanggung jawab maupun kepentingan orang lain.
“Filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menata kehidupan dengan ilmu, kejernihan pikiran, serta pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan,” tuturnya.
Kanjeng Pangeran Noto Winasis telah menjalankan pengabdian sebagai abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.
Peran tersebut lekat dengan nilai-nilai tradisi Jawa, seperti tata krama, kerendahan hati, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab atas setiap tindakan.
Dalam pandangan budaya Jawa, kebijaksanaan tidak hanya di ukur dari luasnya pengetahuan seseorang.
Sikap dalam berbicara, kemampuan mengendalikan diri, serta kesediaan menghormati orang lain juga menjadi bagian dari ukuran kebijaksanaan.
“Nilai-nilai inilah yang tetap relevan di tengah perubahan zaman, ketika masyaraka berhadapan pada berbagai pilihan dan tantangan kehidupan,” ungkapnya. (*)





