Medan pendakian relatif bersahabat. Jalur teduh dengan tanjakan landai mengiringi perjalanan dari Pos 1 hingga Pos 3. Di tengah perjalanan, sebuah tugu kecil menandai batas administratif Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang. Sunrise Camp menjadi tempat singgah terakhir sebelum tanjakan menuju Puncak Ismoyo.
Musim hujan memberi tantangan tersendiri. Tanah basah membuat jalur licin, papan peringatan “awas terpeleset” seolah menjadi teman setia di setiap tikungan.
“Hati-hati, medannya masih basah. Tadi malam kayaknya hujan,” ujar Ida kepada teman-temannya.
Lumpur menempel di sepatu, pijakan terasa goyah, dan fokus pun terjaga penuh. Namun, justru di situ letak kenikmatannya. Setiap langkah menjadi lebih bermakna, setiap kemajuan terasa layak dirayakan.
Ketenangan Gunung Telomoyo
Sesampainya di Puncak Ismoyo, Telomoyo menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Puncak ini memang bukan titik tertinggi, tetapi suasananya terasa paling jujur. Tanpa lalu lalang kendaraan, puncak seolah menjadi ruang privat bagi mereka yang mencapainya dengan tenaga sendiri.
Cuaca yang cerah memperlihatkan siluet Gunung Andong dan Merbabu di kejauhan, berdiri anggun di balik hamparan awan tipis.
“Akhirnya sampai. Itu Andong ya?” celetuk Machfud sembari menghembuskan napas.
BACA JUGA: Mendadak Jadi Wisata, Begini Fenomena Munculnya Gunung Baru di Grobogan Jawa Tengah
“Iya, kayaknya Andong. Untung cerah, kalau mendung pasti enggak kelihatan,” sahut Ida.
Dari kejauhan, menara komunikasi di puncak utama Gunung Telomoyo terlihat jelas. Namun jalur menuju ke sana dari arah pendakian kaki ditutup karena terjal dan berisiko.
Mendaki Telomoyo lewat Basecamp Arsal bukan tentang menaklukkan gunung. Perjalanan ini lebih menyerupai proses menikmati perubahan: dari kebun warga menuju hutan sunyi, dari ramai menuju tenang. Sebuah perjalanan singkat yang justru meninggalkan kesan panjang dan alasan kuat untuk kembali. (*)
Editor: Farah Nazila





