Gaya Hidup

Menilik Viral Gamis Buka Pintu di Semarang, Bakal jadi Tren Baju Lebaran 2027?

×

Menilik Viral Gamis Buka Pintu di Semarang, Bakal jadi Tren Baju Lebaran 2027?

Sebarkan artikel ini
Sudarti, pedagang baju gamis viral 'buka pintu' yang memamerkan dagangannya di Pasar Johar Tengah Blok Teratai IV, Kota Semarang, Sabtu, 10 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Sudarti, pedagang baju gamis viral 'buka pintu' yang memamerkan dagangannya di Pasar Johar Tengah Blok Teratai IV, Kota Semarang, Sabtu, 10 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Gamis viral buka pintu juga tersedia dalam beberapa warna. Salah satunya biru denim seperti yang viral di media sosial.

Sudarti mengatakan, warna biru denim tersebut pelanggan samakan dengan karakter Doraemon. Ini menjadi salah satu warna favorit.

Kemudian ada warna burgundy, cokelat mahogany, biru emerald, dan hitam.

TikTok jadi Jalan Pedagang Pasar Menjangkau Pembeli

Bagi Sudarti, viralnya gamis buka pintu bukan sekadar soal satu model pakaian yang ramai publik bicarakan. Media sosial juga menjadi sarana penting untuk memperkenalkan kembali kiosnya kepada calon pembeli.

Dia bercerita, aktivitas jualannya sempat terdampak kebakaran yang membuat kondisi pasar sepi.

Di mana, kata dia, kontak pelanggan hilang, sementara lokasi berjualan yang berpindah membuat sebagian pelanggan kesulitan menemukan kiosnya.

Situasi itu mendorong Sudarti memanfaatkan TikTok untuk mempromosikan dagangannya. Dia rutin merekam aktivitas jual beli, sedangkan anaknya membantu mengunggah dan menyebarkan video tersebut.

“Kalau nggak ada promosi dari TikTok, orang nggak mungkin tahu tempat saya yang sembunyi gini. Terus akhirnya setiap ada orang beli saya bikin video, saya bikin TikTok. Anak saya yang mempromosikan,” katanya.

Strategi tersebut perlahan membuat kiosnya kembali dikenal. Sudarti menyebut banyak pelanggan yang datang langsung setelah mengetahui dagangannya melalui TikTok.

Pembelinya pun, kata Sudarti, tidak selalu anak muda yang aktif menggunakan media sosial.

Sebagian besar pelanggan tetapnya justru ibu-ibu yang mencari pakaian. Sementara anak-anak mereka membantu menemukan kios melalui konten digital.

“Cuman kebanyakan langganannya ibu-ibu. Ibunya yang cari seragam, terus anaknya yang nunjukkan [kesini],” katanya.

Kini, Sudarti bersyukur karena promosi sederhana yang awalnya dilakukan setiap hari justru membuat dagangannya menjangkau pembeli dari luar kota.

Dia berharap tren gamis buka pintu bisa terus bertahan dan membawa lebih banyak pelanggan ke kiosnya.

“Perasaane yo piye [gimana] yo<span;>, Alhamdulillah lah. Seneng, alhamdulillah dadi tokone diketahui orang terus dikunjungi pembeli,” katanya. (*)

Editor: Diaz A Abidin