SEMARANG, beritajateng.tv – Inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat ‘Bulusan Edu Park’ di Kelurahan Bulusan, Tembalang, Kota Semarang, mendapat apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat.
Saat melakukan kunjungan ke Kebun Bulusan Edu Park, Menteri menilai kawasan tersebut menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular. Inovasi ini mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Jumhur hadir bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto.
Mereka meninjau langsung proses pengolahan sampah organik menggunakan teknologi BIOWASH PROMIC yang Yayasan Peduli Lingkungan Penghijauan Melindungi Bumi dari Polusi.
Teknologi tersebut memanfaatkan bioaktivator berbasis mikroorganisme untuk mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi pupuk, media tanam, hingga nutrisi tanaman yang ramah lingkungan.
Tak hanya berfungsi sebagai lokasi pengolahan sampah, Kebun Bulusan Edu Park juga berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan, penghijauan, urban farming, dan pemberdayaan masyarakat.
Berawal dari gerakan warga di lingkungan RT 04 RW 04 Kelurahan Bulusan, program ini kini menjadi contoh praktik ekonomi sirkular berbasis komunitas yang melibatkan partisipasi aktif warga.
BACA JUGA: Agustina Inisiasi Waras Ekonomi, UMKM Semarang Dapat Pendampingan Terpadu dan Business Matching
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat mengatakan keberhasilan Bulusan menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah tidak harus selalu lahir dari program besar pemerintah. Tetapi bisa tumbuh dari inisiatif masyarakat di tingkat akar rumput.
“Dari sebuah RT di Kota Semarang lahir gagasan bahwa sampah ternyata bisa memberikan keuntungan. Inilah yang disebut ekonomi sirkular. Sampah bukan lagi menjadi masalah, melainkan dapat menjadi bagian dari peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Jumhur.
Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik dan kearifan lokal yang berbeda dalam mengelola lingkungan. Karena itu, pemerintah pusat perlu memberikan ruang bagi berbagai inovasi masyarakat agar dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing.
Ia menilai model pengelolaan sampah yang ada di Bulusan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mendukung target nasional pengurangan dan pengelolaan sampah.
“Kami semakin optimistis target pengelolaan sampah nasional dapat tercapai apabila dibangun dari semangat masyarakat. Ketika prakarsa warga bertemu dengan dukungan pemerintah, maka akan lahir gerakan besar yang membawa banyak manfaat,” katanya.
Apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Semarang dalam memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Melalui Program Semarang Wegah Nyampah, pengembangan bank sampah, edukasi masyarakat, hingga penguatan ekonomi sirkular. Pemkot Semarang terus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat telah menunjukkan hasil yang positif.
“Hingga tahun 2025, Kota Semarang memiliki 857 bank sampah aktif dengan 15.725 nasabah. Sampah yang berhasil di kelola mencapai 1.705,7 ton per tahun dengan nilai ekonomi sirkular sebesar Rp1,99 miliar. Pada tahun 2026, jumlah bank sampah kami targetkan meningkat menjadi 1.486 unit dengan proyeksi pengelolaan sampah mencapai 2.823,4 ton per tahun,” jelas Agustina.
Menurutnya, keberhasilan yang warga Bulusan capai membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan.
Tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru, memperkuat semangat gotong royong, serta membangun budaya hidup berkelanjutan di tengah masyarakat.
Pemkot Semarang berharap praktik baik yang berkembang di Kebun Bulusan Edu Park dapat di replikasi di berbagai wilayah lain. (*)
Editor: Elly Amaliyah





