SEMARANG, beritajateng.tv – Penanganan banjir di Kota Semarang membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, masyarakat, hingga sektor swasta.
Selain pembangunan infrastruktur, edukasi publik dan pengelolaan lingkungan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko banjir di masa mendatang.
Pakar Hidrologi Undip sekaligus Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Jawa Tengah, Sriyana, menilai banjir yang sempat terjadi di kawasan Ngaliyan beberapa waktu lalu tidak bisa lepas dari kombinasi faktor cuaca ekstrem dan kondisi geografis wilayah.
Berdasarkan data BMKG, curah hujan di wilayah Ngaliyan pada Mei lalu memang mencapai 50 hingga 100 milimeter per hari atau masuk kategori hujan lebat. Kondisi itu memberikan tekanan besar pada sistem drainase Kali Silandak yang menjadi salah satu saluran utama di kawasan tersebut.
“Masyarakat perlu memahami bahwa bentuk daerah aliran sungai di Ngaliyan cenderung bulat seperti mangkuk raksasa. Ketika hujan deras turun, air dari berbagai arah perbukitan akan berkumpul di satu titik secara bersamaan. Sehingga menghasilkan debit puncak yang sangat tinggi dalam waktu singkat. Karena itu risiko banjir di wilayah ini memang lebih besar dibandingkan daerah dengan bentuk DAS memanjang,” ujar Sriyana.
Menurutnya, faktor alam tersebut semakin di perberat oleh perubahan tata guna lahan di kawasan hulu.
BACA JUGA: Agustina Inisiasi Waras Ekonomi, UMKM Semarang Dapat Pendampingan Terpadu dan Business Matching
Alih fungsi lahan, pertumbuhan permukiman, dan berkurangnya area resapan air menyebabkan limpasan air hujan meningkat tajam saat curah hujan tinggi.
Kondisi itu memicu erosi yang membawa material tanah ke wilayah hilir. Endapan lumpur kemudian menyumbat saluran drainase lingkungan dan memperparah genangan di sejumlah kawasan permukiman, termasuk di Purwoyoso.
Meski demikian, Pakar Hidrologi ini menilai berbagai infrastruktur pengendali banjir yang Pemerintah Kota Semarang bangun saat ini sudah cukup baik.
Persoalan utama justru terletak pada faktor pendukung seperti sedimentasi, sampah, dan keberadaan bangunan yang mempersempit aliran sungai.





