“Ada enam pusaka yang dijamas berupa satu tombak lurus, dua tombak trisula dan tiga bilah keris. Yang itu tinggalnya Ki Ageng Pandanara II atau Bupati Semarang I,” tandasnya.
Penjamas pusaka Kabupaten Semarang, AM Sutikno menambahkan, makna jamasan tidak hanya secara simbolik membersihkan pusaka berupa tosan aji peninggalan leluhur.
Tetapi, merupakan intropeksi bagi semua selaku masyarakat terkait apa saja dan bagaimana dalam melaksanakan tugas- tugas untuk Kabupaten Semarang yang gemah ripah dan toto tentrem.
Terutama para generasi muda, agar tidak hanya mengerti saja tapi juga harus di laksanakan dalam kehidupan sehari- hari. “Karena sebuah keris itu penuh filosofi meskipun simbol,” jelasnya.
BACA JUGA: Rayakan HUT ke-53, PDIP Kabupaten Semarang Gelar Tasyakuran Bersama Anak-Anak Panti Asuhan
Sementara itu, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha menyampaikan, rangkaian kegiatan kirab Merti Bumi Serasi tidak hanya untuk air suci Tirta Perwita Sari untuk jamasan saja.
Setiap kecamatan juga menitipkan berbagai macam hasil bumi dari masing-masing wilayahnya. Adapun hal ini sebagai simbol wujud syukur atas limpahan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Seluruh peserta kirab juga mengenakan pakaian khas Kabupaten Semarang. “Yakni berupa ‘Gagrak Semarangan’ yang sudah menjadi pakaian wajib pada hari tertentu di lingkungan Pemkab Semarang,” tegas bupati. (*)
Editor: Farah Nazila




