SEMARANG, beritajateng.tv – Sering kali kita merasa mengantuk 1-2 jam setelah berolahraga. Secara teori, olahraga membuat tubuh terasa lebih segar karena denyut jantung dan aktivitas saraf simpatis meningkat.
Namun, beberapa orang justru muncul kantuk berat setelah olahraga.
Kondisi tersebut menandakan bahwa tubuh sangat kelelahan. Kemungkinan penyebabnya adalah kurang asupan sebelum olahraga, intensitas latihan terlalu tinggi, atau aktivitas harian yang sudah melelahkan.
Istirahat merupakan solusi terbaik saat tubuh memberi sinyal lelah. Karena memaksakan diri dapat meningkatkan hormon stres dan berdampak kurang baik bagi kesehatan.
BACA JUGA: Bank Jateng dan Korem 072 Perkuat Sinergi Lewat Olahraga
Topik lain yang jadi pembahasan adalah penggunaan antibiotik. Mengonsumsi antibiotik tanpa resep dan tidak sesuai aturan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten.
Konsumsi antibiotik harus sesuai dosis, karena bakteri belum tentu sepenuhnya hilang meskipun gejala mereda. Penggunaan sembarangan justru membuat bakteri “bertahan” dan sulit diatasi di kemudian hari.
Aritmia, GERD, dan Nyeri Dada yang Mirip Serangan Jantung
Gangguan irama jantung seperti takikardia tidak boleh didiagnosis sendiri. Penegakan diagnosis harus melalui pemeriksaan dokter spesialis jantung dengan EKG dan evaluasi lanjutan.
Takikardia bisa bersifat normal, misalnya saat panik atau stres. Namun bila terdapat kelainan pada rekam jantung, maka perlu pembatasan aktivitas sesuai anjuran dokter.
BACA JUGA: DPRD Semarang Dukung Olahraga Rekreasi Jadi Ekstrakurikuler Sekolah
Gastritis dan GERD juga sering menimbulkan gejala mirip serangan jantung.
Sensasi panas di dada, mual, hingga nyeri menjalar bisa terjadi karena asam lambung naik. Perbedaannya hanya dapat terungkap melalui ilmu para tenaga medis. Sebaiknya segera periksa ke IGD, ketika muncul nyeri dada hebat.
Pemicu utama GERD salah satunya adalah pola makan yang tidak teratur dan stres. Maka dari itu, penyakit ini bisa dicegah dengan cara menghindari keterlambatan makan dan menjaga gaya hidup sehat.
Keringat, Dehidrasi, dan Bahaya Duduk Terlalu Lama
Jarang berkeringat bukan berarti tubuh terhidrasi baik. Suhu lingkungan dan mekanisme pengaturan suhu tubuh memengaruhi produksi keringat.
Bekas keringat yang mengering menjadi butiran garam adalah hal normal. Hal itu menandakan tubuh kehilangan elektrolit dan cairan dalam jumlah cukup banyak.
BACA JUGA: Disporapar Resmi Dipisah, KNPI Jateng Harap Dispora Fokus Kembangkan Pemuda dan Olahraga
Olahraga saat cuaca panas juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke. Kebutuhan cairan harus disesuaikan dengan durasi dan intensitas aktivitas.
Kurang olahraga ataupun duduk terlalu lama juga sama-sama berdampak buruk. Duduk berkepanjangan memicu risiko nyeri punggung bawah dan gangguan tulang belakang.
Sebaliknya, tubuh yang jarang bergerak juga mudah mengalami penurunan fungsi. Solusinya adalah aktif bergerak, berdiri tiap 30 menit, dan berolahraga minimal 150 menit per minggu. (*)





