Lulik menceritakan sudah merantau ke Jakarta sejak lulus sekolah. Awalnya, ia ikut orang tuanya yang juga merantau di Jakarta. Ia sempat bekerja serabutan dan membantu orang tuanya jualan bakso. Kemudian, ia menikah dan memutuskan untuk berjualan bakso keliling sendiri. Sementara itu, istrinya jualan jamu keliling.
“Hampir 25 tahun jualan. Dulu ikut orang tua di sini, terus sempat kerja, terus mulai jualan bakso sendiri setelah menikah pada tahun 2012,” ujar Lulik.
Penghasilan kotor Lulik dari jualan bakso keliling rata-rata Rp5 juta per bulan. Jumlah itu masih dipotong modal, biaya kontrak rumah, makan sehari-hari serta biaya listrik dan air.
“Kontrakan per bulan Rp800 ribu, kalau ditambah biaya makan, listrik, dan air ya total sebulan bisa sampai Rp1 juta,” ungkap pria yang menyewa rumah ukuran kecil itu bersama istri dan anak-anaknya.
Dari pendapatan yang pas-pasan tersebut, ia masih harus menabung untuk biaya sekolah anak. Kalau masuk musim lebaran, pengeluaran bisa lebih tinggi karena harus mudik ke kampung halaman. Beban tertinggi tentu saja ongkos tiket bus ke Karanganyar yang saat lebaran bisa tembus Rp600 ribu per orang.
“Mudik gratis ini sangat membantu sekali buat saya sekeluarga. Sudah ikut program ini dari 2016 kalau nggak salah. Dari dulu daftarnya masih antre di Kantor Badan Penghubung Jawa Tengah sampai sekarang bisa daftar lewat aplikasi Jateng Ngopeni Nglakoni (JNN),” ujarnya.
Asa Pedagang untuk Mudik Gratis
Kisah di perantauan juga disampaikan oleh Bejo Fauzan, pedagang bakso di daerah Tanah Kusir, Jakarta. Bejo mengaku sudah merantau dan berjualan bakso Solo sejak tahun 1994. Mulai berjualan keliling menggunakan pikulan, kemudian menggunakan sepeda ontel, berlanjut pakai gerobak keliling, lalu membuka warung kaki lima, dan akhirnya dapat menyewa sebuah bangunan di wilayah Tanah Kusir.





