SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah padatnya kawasan Kampung Sekayu yang kini dikelilingi bangunan modern, berdiri sebuah musala kayu dengan arsitektur sederhana namun sarat sejarah.
Mushola Bismillah namanya. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah warga, tetapi juga menyimpan cerita panjang perjalanan kota Semarang, bahkan terkaitkan dengan tokoh sejarah era Perang Jawa.
Musala tersebut awalnya tidak berada di Kampung Sekayu. Bangunan kayu ini dahulu berdiri di Kampung Basahan, kawasan yang terletak di antara Jalan Pemuda dan Jalan Pierre Tendean.
Seiring perubahan fungsi wilayah menjadi kawasan perdagangan dan perhotelan, bangunan musala dipindahkan agar tidak hilang akibat pembangunan.
Kini, Mushola Bismillah berada di RT 08 RW 01 Kelurahan Sekayu, sekitar 100 meter di tenggara Masjid Taqwa Sekayu.
BACA JUGA: 6 Cafe di Semarang yang Ada Musholanya, Bisa Buat Pilihan Bukber!
Sesepuh Mushola Bismillah, Sunar, menceritakan bahwa bangunan ini konon merupakan peninggalan dari masa Sentot Ali Basah, panglima perang yang dikenal sebagai tokoh penting dalam perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda.
“Menurut cerita dulu itu peninggalan Ali Basah Sentot. Basah itu kan pangkatnya, panglimanya Pangeran Diponegoro. Ceritanya begitu dari orang-orang dulu,” ujar Sunar saat beritajateng.tv temui baru-baru ini.
Meski tidak ada catatan pasti tahun pembangunannya, kisah turun-temurun tersebut membuat warga percaya bahwa material kayu jati yang di gunakan memiliki nilai sejarah tinggi.
Warga Selamatkan dari Pembongkaran
Perjalanan Mushola Bismillah hingga berdiri di Sekayu tidaklah mudah. Saat tanah di lokasi lama di kampung Basahan di jual, bangunan sempat akan terbongkar. Namun upaya tersebut lurah setempat hentikan saat itu karena musala merupakan fasilitas untuk masyarakat.
Sisa bangunan kemudian di pindahkan secara gotong royong oleh warga ke lokasi baru yang merupakan lahan kosong bekas asrama polisi hasil tukar guling.
Sunar bersama dua rekannya, almarhum Badri dan almarhum Karno, menjadi tokoh utama dalam proses pemindahan tersebut. Mereka mengangkut kayu satu per satu, memotong ulang, hingga merangkai kembali struktur bangunan setiap akhir pekan.
“Saya bawa kayu-kayu itu ke tempat gergajian tangan dulu, potong, terus buat lagi. Yang jadi soko ini dulunya bukan dari sini, tapi dari bangunan lama,” katanya.
Beberapa bagian asli masih bertahan hingga sekarang, termasuk tiang utama, ukiran kayu, serta struktur tumpangsari di bagian atas.
Pengusulan Jadi Cagar Budaya
Sunar mengungkapkan sempat muncul gagasan untuk menjadikan musala ini sebagai bangunan kuno yang terlindungi karena nilai sejarahnya. Namun rencana tersebut tidak terealisasi setelah tokoh pengusulnya meninggal dunia.
Akibatnya, musala sempat terbengkalai sebelum akhirnya di pindahkan dan di bangun kembali oleh warga. Seiring waktu, bangunan juga mengalami renovasi bertahap. Awalnya hanya berupa dinding setengah tembok dengan bagian atas terbuka.
Sekitar tahun 2000-an, pengurus mengajukan bantuan ke Pemerintah Kota Semarang dan mendapat dana sekitar Rp15 juta untuk memperbaiki struktur menjadi lebih permanen seperti sekarang. Meski demikian, unsur kayu asli tetap dipertahankan sebagai identitas utama.
BACA JUGA: Tanah Longsor Landa Sejumlah Titik Selama Dua Hari, Warga Kaligawe Kian Was-was
Keberadaan Mushola Bismillah menjadi simbol bagaimana kampung lama di pusat kota mampu bertahan di tengah modernisasi. Bangunan kayu yang mungkin berusia ratusan tahun itu kini menjadi pengingat sejarah kawasan Basahan yang telah berubah wajah.
Di tengah pesatnya pembangunan kota, Mushola Bismillah membuktikan bahwa warisan sejarah tidak selalu berupa bangunan megah. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana, tiang kayu tua yang tetap berdiri, menjaga cerita masa lalu agar tidak hilang karena zaman. (*)
Editor: Farah Nazila





