SEMARANG, beritajateng.tv – Suara mesin bajaj yang melintas di jantung Kota Semarang bukan sekadar atraksi jalanan. Di balik konvoi 13 bajaj yang berkeliling dari Jalan MT Haryono (Mataram) hingga Kota Lama, tersimpan pesan kuat tentang pentingnya transportasi ramah difabel dan lansia.
Puluhan anak difabel yang tergabung dalam Yayasan Kinasih Keluarga Inklusi atau Rumah Difabel Inklusi tampak antusias mengikuti kegiatan jalan-jalan kota menggunakan bajaj. Pengurus yayasan, Novi Oktavia, mengatakan pengalaman tersebut menjadi momen berharga sekaligus edukatif bagi anak-anak.
“Anak-anak itu senang sekali. Mereka melambaikan tangan, ada yang merekam video, terus orang-orang di jalan banyak yang menyangka ini pawai bajaj,” ujar Novi Senin, 19 Januari 2026.
BACA JUGA: Polemik Surat Izin Mengemudi Driver Bajaj, Maxride Semarang Tegaskan Masih Mengacu SIM C
Menurutnya, selain menyenangkan, perjalanan tersebut membuka ruang interaksi sosial antara anak difabel dan masyarakat luas. Kehadiran mereka di ruang publik menjadi simbol bahwa kota yang inklusif harus bisa semua kalangan nikmati.
Lebih Aman dan Nyaman untuk Difabel
Novi menilai bajaj di Semarang memiliki keunggulan tersendiri dibanding pengalaman serupa di kota lain. Aspek kebersihan, keamanan, hingga kenyamanan dinilai lebih baik dan ramah bagi penumpang berkebutuhan khusus.
“Bajajnya bersih, lebih aman, dan asap rokoknya juga difilter ke belakang, jadi penumpang tidak terganggu. Ini penting untuk anak-anak difabel, supaya mereka nyaman,” jelasnya.
Selain itu, desain bajaj yang bisa merapat ke depan rumah ternilai sangat membantu mobilitas anak berkebutuhan khusus, terutama mereka yang kesulitan berjalan jauh.
“Kalau hujan juga lebih aman karena sudah ada pelindung. Bahkan katanya bisa sampai luar kota, ini jadi opsi transportasi yang fleksibel,” tambah Novi.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan bajaj yang sekitar 20 anak ikuti dalam 13 bajaj menyusuri rute dari Jalan MT Haryono (Mataram)-Kota Lama-Tugu Muda-Simpang Lima-Kampung Kali, hingga kembali lagi ke Mataram.
“Anaknya ada yang berdua, bertiga dalam satu bajaj. Yang penting semua senang dan bisa ikut menikmati kota,” katanya.
Berharap Bajaj Jadi Transportasi Inklusif
Lebih dari sekadar wisata kota, Novi berharap bajaj dapat berkembang sebagai moda transportasi inklusif di Semarang, tidak hanya bagi difabel tetapi juga lansia.
“Banyak orang tua atau lansia yang tidak bisa bergantung pada HP dan aplikasi. Bajaj ini bisa seperti becak, dipanggil langsung di jalan, itu sangat membantu,” ujarnya.
BACA JUGA: Berkah Hari Pahlawan, Pedagang Cilok Difabel di Semarang Dapat Motor Roda Tiga dari Bupati
Ia juga membuka peluang kerja sama antara komunitas difabel dengan pengelola bajaj, misalnya melalui voucher atau program khusus agar lebih terjangkau bagi komunitas.
“Kalau bisa ada voucher atau kerja sama komunitas, itu akan sangat membantu. Intinya, transportasi itu harus bisa semua orang akses,” pungkas Novi.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa transportasi inklusif bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal empati dan keberpihakan pada kelompok rentan di ruang publik kota. (*)
Editor: Farah Nazila





