“Baju yang kami berikan ini untuk menggantikan kostum lama yang sudah menjadi warisan. Nantinya kostum-kostum bersejarah itu akan kami simpan di museum agar bisa menjadi pembelajaran bagi generasi mendatang,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Pemkot Semarang juga memberikan tanda tresna kepada lima keluarga pendiri Ngesti Pandowo. Yakni keturunan Ki Sastrosabdo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, Ki Kusni, dan Ki Sastro Soedirdjo sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam menjaga eksistensi wayang orang.
Agustina mengungkapkan, dukungan pemerintah tidak berhenti pada penyediaan kostum. Pemkot telah melakukan renovasi gedung pertunjukan TBRS, memperbarui sejumlah fasilitas pendukung, serta menyiapkan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan para seniman.
“Kami juga memperhatikan kesehatan para seniman dan pendidikan anak-anak mereka. Pelestarian budaya harus dibarengi dengan perhatian terhadap para pelakunya,” tegasnya.
Peringatan HUT ke-89 Ngesti Pandowo mengusung tema “Lestari Budayaku, Bersama Kita Maju, Membangun Semarang Semakin Hebat”. Dalam kesempatan itu, Agustina turut tampil dalam pementasan Wanito Tangguh dengan lakon Wahyu Purbo Sejati bersama para istri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Rangkaian perayaan berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan bursa sanggar seni, pameran arsip dan foto, workshop tari, bazar UMKM, serta berbagai pertunjukan seni yang melibatkan komunitas budaya di Kota Semarang. (*)





