Gaya Hidup

Nostalgia Pasar Maling Johar Semarang, Ikon Legendaris yang Kini Bangkit Jadi New PM

×

Nostalgia Pasar Maling Johar Semarang, Ikon Legendaris yang Kini Bangkit Jadi New PM

Sebarkan artikel ini
Nostalgia Pasar Maling Johar Semarang, Ikon Legendaris yang Kini Bangkit Lagi Jadi New PM
Yuli Eko, pedagang senior New PM memperlihatkan kemeja batik yang hanya dibanderol harga Rp15ribu. (Ellya/beritajateng.tv)

“Barang-barang itu kami perbaiki lagi, kami pasang kancingnya, jahit ulang, kami bersihkan, lalu jual dengan harga murah. Kualitasnya tetap bagus,” jelasnya.

Justru dari kreativitas itulah citra Pasar Maling semakin terkenal sebagai tempat berburu barang berkualitas dengan harga terjangkau.

Tak hanya soal barang dagangan, para pedagang juga menciptakan bahasa prokem yang hingga kini masih mereka gunakan saat bertransaksi.

Untuk menyebut angka, mereka memiliki istilah khusus seperti “Rojo” untuk angka satu dan “Kirik” untuk angka dua. Bahkan beberapa jenis barang juga memiliki nama sandi tersendiri.

“Kalau kami bicara harga sesama pedagang, pembeli tidak akan paham karena menggunakan bahasa kami sendiri. Itu memang sengaja untuk pedagang,” ujar Eko sambil tersenyum.

Bahasa tersebut kemudian berkembang dan bahkan di adopsi sebagian kalangan pedagang maupun sopir angkutan di sejumlah wilayah Semarang.

Tak hanya menjadi identitas, bahasa prokem itu menjadi bagian dari warisan budaya perdagangan yang terus terjaga oleh pedagang lama dan di wariskan kepada generasi berikutnya.

Sejarah Pasar Maling

Sementara itu, Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro, menjelaskan bahwa penyebutan Pasar Maling sebenarnya telah muncul sejak era kolonial Belanda.

Menurutnya, kawasan tersebut dahulu terkenal sebagai Deven Pasat atau Pasar Pencuri karena menjadi lokasi peredaran barang impor ilegal yang masuk melalui jalur laut tanpa melalui sistem resmi pemerintah kolonial.

“Pada era 1970 hingga 1980-an transaksi juga berlangsung dini hari menggunakan lampu minyak atau petromaks. Suasana yang gelap dan serba cepat itu kemudian identik dengan istilah pasar maling,” kata Bagas.

Namun, ia menegaskan bahwa konsep New PM yang kini Pemerintah Kota Semarang kembangkan, bukan untuk menghidupkan kembali perdagangan ilegal. Melainkan mengembalikan kejayaan kawasan perdagangan Johar.

“New PM bukan berarti New Pasar Maling dalam arti negatif. Kami memaknainya sebagai New Pasar Murah atau New Pasar Meriah. Yang kami bangkitkan adalah semangat perdagangan dan keramaian Pasar Johar,” ujarnya.