Pemerintah Kota Semarang juga mengundang tokoh pejuang yang menjadi pelaku maupun saksi hidup pertempuran tersebut. Kehadiran mereka harapanya dapat memperkaya pemahaman pengunjung tentang peristiwa sejarah, tidak hanya melalui gambar dan artefak. Tetapi juga melalui pengalaman orang-orang yang pernah mengalaminya.
Dalam pameran ini, Agustina turut menyumbangkan koleksi foto dari koleksi pribadinya di Rumah Pohan. Foto tersebut tampil dalam bentuk reproduksi, sedangkan foto aslinya tetap menjadi bagian dari koleksi pribadi.
Foto hingga Artefak
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar, menjelaskan bahwa pameran tidak hanya mengandalkan foto sebagai media untuk mengenalkan sejarah.
Sejumlah artefak juga berjejer, mulai dari koran, pakaian pejuang, pistol, bayonet, radio, hingga mesin ketik.
Benda-benda tersebut berasal dari koleksi dinas dan para kolektor. Kehadirannya memberikan gambaran tentang perlengkapan, komunikasi, serta kehidupan pada masa perjuangan.
“Selain foto, juga ada artefak, berupa koran, baju dari pejuang, senjata kita coba pamerkan,” kata Nur Huda.
Menurut dia, koleksi yang ditampilkan tidak berhenti sebagai benda pajangan. Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang berencana menjadikannya bahan diskusi untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Pameran ini sekaligus menjadi upaya mendekatkan sejarah kepada generasi muda. Dokumentasi visual dan benda peninggalan diharapkan dapat membuat peristiwa masa lalu lebih mudah dipahami dibandingkan hanya melalui catatan tertulis.
“Harapan kami dengan adanya pameran ini tentu saja mengingatkan kepada generasi-generasi yang sekarang ini bahwa pertempuran yang ada merupakan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan,” ujarnya.
Ia menilai bentuk perjuangan generasi sekarang memang berbeda dengan masa pertempuran fisik. Namun, semangat untuk membela kepentingan bangsa dan melawan ketidakadilan tetap relevan dalam kehidupan saat ini.
“Mungkin sekarang bentuknya bukan lagi pertempuran seperti yang dulu, tapi melawan penjajahan ekonomi. Semangat para pejuang harus di tanamkan untuk berjuang di kemudian hari,” tegasnya. (*)





