Jateng

Pawai Patung Raksasa Meriahkan Malam Takbiran Semarang, Rute Simpang Lima-MH Thamrin Dipadati Warga

×

Pawai Patung Raksasa Meriahkan Malam Takbiran Semarang, Rute Simpang Lima-MH Thamrin Dipadati Warga

Sebarkan artikel ini
pawai semarang
Kemeriahan pawai malam takbir di Jalan MH Thamrin Kota Semarang dengan patung kreasi tokoh Wali Songo. Jumat, 20 Maret 2026 malam. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Memasuki Jalan MH Thamrin, nuansa pawai berubah menjadi lebih simbolik. Selain patung ikan dengan ornamen cahaya, tampak pula figur tokoh Wali Songo yang terhadirkan sebagai representasi nilai dakwah. Warga yang menonton terlihat lebih khidmat, beberapa bahkan ikut melantunkan takbir saat iring-iringan melintas pelan di hadapan mereka.

Sementara di kawasan Simpang Lima hingga Gajahmada, patung berbentuk masjid dengan kubah menyala menjadi pusat perhatian. Miniatur masjid itu berdiri megah di atas kendaraan, dihiasi lampu hijau, kuning, dan biru yang berkedip mengikuti irama. Banyak warga berhenti cukup lama di titik ini, sekadar berfoto atau menikmati detail ornamen yang ditampilkan.

Meski kemacetan tak terhindarkan, suasana justru terasa hangat dan penuh kebersamaan. Tidak terlihat keluhan berarti dari warga. Sebaliknya, mereka tampak menikmati setiap momen, berbagi ruang di jalanan yang biasanya sibuk dengan aktivitas harian.

Salah satu warga, Rizky Al-Fath (28), asal Kudus, mengaku sengaja datang ke Semarang untuk merasakan atmosfer malam takbiran yang berbeda.

“Saya memang selalu menunggu momen malam Lebaran di Semarang. Walaupun macet, tapi suasananya ramai dan terasa banget kemeriahannya,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di sekitar Jalan Gajahmada Semarang.

BACA JUGA: Trafik Data Indosat Naik 21 Persen Saat Idulfitri, Kebumen Jadi Penyumbang Tertinggi di Jateng

Bagi Rizky, pawai ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman kolektif yang menghadirkan rasa kebersamaan di tengah keramaian kota. Ia menyebut, gemerlap lampu, suara takbir, dan antusiasme warga menjadi kombinasi yang sulit penemuannya di tempat lain.

Sementara itu, menurut Dika Kurniawan (30) asal Kendal mengakui bahwa malam takbiran di Semarang tahun ini pun kembali menjadikan jalanan kota bisa berubah menjadi ruang perayaan yang hidup, tempat tradisi, kreativitas, dan kebahagiaan bertemu dalam satu waktu.

“Meskipun macet, tapi ini jadi wujud kebersamaan dan kreativitas warga. Karena membuat patung-patung pawai itu pasti bersama-sama dan gotong royong,” katanya. (*)

Editor: Farah Nazila