Olahraga

PBPI Jateng Resmi Dilantik, Padel Siap Berkembang Pesat di Jawa Tengah

×

PBPI Jateng Resmi Dilantik, Padel Siap Berkembang Pesat di Jawa Tengah

Sebarkan artikel ini
PBPI Jateng Resmi Dilantik, Padel Siap Berkembang Pesat di Jawa Tengah
Pelantikan PPI Jateng periode 2025-2029. (Steve Arie/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) Jawa Tengah resmi melantik jajaran pengurus baru periode 2025-2029.

Ketua Umum PBPI Jateng, Arganto Wibowo Pangarso, menyebut momen pelantikan ini sebagai tonggak penting lahirnya semangat baru untuk mengembangkan olahraga Padel di provinsi ini.

Arganto mengapresiasi dedikasi seluruh pengurus yang telah berjuang sejak awal berdirinya PBPI Jateng hingga akhirnya bisa terbentuk secara resmi.

Menurutnya, kepengurusan saat ini sudah solid, namun tetap membutuhkan dukungan pemerintah daerah agar pembentukan pengurus di tingkat kabupaten/kota bisa berjalan lebih cepat.

“Sejumlah daerah sudah memiliki lapangan Padel atau tengah membangunnya. Misalnya di Semarang, Kendal, Kudus, Pekalongan, Tegal, Magelang, Banyumas, Solo, Sukoharjo, hingga Karanganyar. Artinya olahraga ini tidak hanya berkembang di kota besar, tetapi juga merambah daerah lain,” ujar Arganto usai pelantikan di Hotel Santika, Semarang, Rabu (1/10).

BACA JUGA: Fakta di Balik Melejitnya Padel di Jawa Tengah, Bakal Tembus 80 Lapangan Baru

PBPI Jateng, lanjut Arganto, berencana menggelar turnamen perdana dalam format series pada akhir 2025 atau awal 2026. Selain itu, pihaknya juga bersiap mengadakan turnamen Padel memperebutkan Piala Gubernur Jawa Tengah.

“Kami ingin membangun kolaborasi berkelanjutan dengan konsep penta helix, yakni sinergi antara PBPI, pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan akademisi. Dengan kerja sama ini, Padel bisa berkembang hingga tingkat kabupaten dan kota,” tegasnya.

Dari sisi nasional, Ketua Umum PBPI Pusat, Galih Dimuntur Kartasasmita, menilai perkembangan Padel di Indonesia sangat cepat meski usianya masih relatif baru.

Ia mengingatkan agar pengembangan olahraga ini tidak hanya berfokus pada industri, tetapi juga pada prestasi.

“Pengalaman dari Swedia bisa jadi pelajaran. Di sana dalam tiga tahun di bangun 3.000 lapangan, namun 30-40 persen terpaksa tutup karena tidak memiliki fasilitas sosial. Indonesia punya keunggulan karena pusat olahraga biasanya juga menyediakan ruang rekreasi, sehingga Padel berpotensi memberi dampak sosial lebih besar,” jelas Galih.