SEMARANG, beritajateng.tv – Podcast politik di kanal YouTube Total Politik kembali memantik perdebatan. Dalam episode berjudul “Megawati Gabung Dengan Prabowo Terhalang Jokowi, Tapi Jadi Oposisi Pun Ragu” yang tayang Senin, 23 Februari 2026, politikus senior Laksamana Sukardi mengulas posisi dan masa depan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Ia menilai PDIP justru terlalu demokratis saat berada dalam kekuasaan. Menurutnya, sikap itu menjadi kelebihan sekaligus kelemahan.
“Tapi saya kira Parcok mulai aktif ketika zaman Pak Jokowi ya ketimbang Ibu Mega. Yang demokratis itu Ibu Mega, makanya dia kalah,” ujar Laksamana.
Menurutnya, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, memegang prinsip kuat agar pemilu berjalan terbuka. Ia bahkan menegaskan, “Polisi pun tidak ada yang diperintah sama dia untuk melakukan ini itu.”
BACA JUGA: Potensi Bencana Kembali Meningkat, PDIP Instruksikan Kader dan Fraksi Turun Bantu Warga Terdampak
Selain soal demokrasi, Laksamana juga mengkritik lemahnya kaderisasi internal. Ia menyebut partai berlambang banteng itu belum menyiapkan regenerasi secara sistematis.
“Partai ini sudah dicanangkan partai milik keluarga. Tidak boleh orang lain selain keluarga memimpin partai ini,” katanya.
Nama-nama seperti Puan Maharani dan Prananda Prabowo dinilai mendapat ruang lebih besar. Namun, ia menilai proses grooming belum optimal. Puan memang memiliki panggung sebagai Ketua DPR, tetapi momentum itu dianggap belum dimanfaatkan maksimal.
Laksamana juga menyoroti peluang figur lain, termasuk Pramono Anung yang kini menjabat Gubernur Jakarta. Jabatan itu ia sebut sebagai etalase politik nasional.
“Kalau dia bisa memainkan kartunya dan berbaik-baik dengan Ibu Mega, itu bisa saja,” ucapnya.
Laksamana Sukardi Dorong PDIP Lebih Tegas Jadi Oposisi
Terkait sikap oposisi, ia mendorong PDIP tampil lebih tegas dan konstruktif. Ia menilai panggung parlemen menyediakan banyak isu strategis, mulai APBN hingga kebijakan ekonomi.
“Oposisi itu harus lebih berbobot dari pemerintah. Untuk mengkritik harus belajar dulu,” tegasnya.
Ia membandingkan situasi saat era Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, PDIP berani mengambil posisi oposisi jelas dan konsisten.




