SEMARANG, beritajateng.tv – Polemik yang beredar di media sosial terkait penolakan pedagang terhadap kehadiran toko Kue Gambang di kawasan Pasar Johar Semarang akhirnya mendapat klarifikasi.
Para pedagang Pasar Johar memastikan kabar tersebut tidak benar dan tidak sesuai kondisi di lapangan.
Salah satu pedagang konveksi di Pasar Johar, Sutarno, menegaskan bahwa ia maupun pedagang lain tidak pernah menolak keberadaan toko tersebut.
Ia justru menilai kehadiran usaha baru mampu meningkatkan jumlah pengunjung ke kawasan pasar.
“Saya tidak menolak. Justru dengan adanya toko itu, pengunjung jadi lebih banyak. Walaupun tidak langsung belanja di tempat saya, setidaknya mereka jadi tahu ada toko pakaian di sini,” ujar Sutarno.
Menurutnya, peningkatan arus pengunjung berpotensi memberikan dampak positif bagi seluruh pedagang di Pasar Johar dalam jangka panjang.
Ia juga membantah adanya rencana pembukaan akses baru yang dsebut-sebut menjadi sumber polemik.
“Tidak ada rencana pembongkaran atau akses baru seperti yang beredar. Itu tidak benar,” katanya.
Hal senada disampaikan pegiat Pasar Johar, Didik Agus Setyanto. Ia menjelaskan bahwa narasi penolakan muncul akibat kesalahpahaman yang berkembang di internal pedagang dan kemudian meluas di media sosial.
Didik mengungkapkan, sebelumnya sempat muncul wacana penataan ulang area Johar Utara, termasuk isu pemindahan pedagang. Namun, menurutnya, hal itu tidak berkaitan dengan keberadaan toko Kue Gambang.

“Yang kami tolak itu bukan toko rotinya, tapi kekhawatiran adanya pedagang dari luar yang masuk. Itu pun hanya isu yang berkembang, bukan kebijakan resmi,” jelas Didik.
Ia juga menambahkan bahwa rencana perbaikan di area pasar hanya menyasar fasilitas umum, seperti tangga, agar lebih ramah bagi lansia dan ibu hamil. Namun rencana tersebut akhirnya tidak berlanjut setelah mempertimbangkan dampaknya.
BACA JUGA: Viral Isu Tembok Pasar Johar Dijebol Demi Toko Roti Gambang, Owner dan Disdag Angkat Bicara
“Rencana awal hanya merapikan tangga supaya lebih aman, tapi kalau berpotensi menimbulkan masalah seperti banjir, ya tidak jadi dilakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Dasilva, menegaskan bahwa seluruh proses kehadiran toko Kue Gambang telah melalui prosedur yang berlaku dan mendapat persetujuan pedagang.
Ia mengatakan, pihaknya justru melihat peluang untuk menghidupkan kembali kawasan Pasar Johar yang sebelumnya kurang optimal.
“Kami sudah komunikasi dengan pedagang sebelum izin diberikan. Hasilnya, mereka tidak keberatan, bahkan mendukung karena bisa menambah keramaian,” kata Amoy, sapaannya.
Menurutnya, upaya menghadirkan variasi usaha di Pasar Johar merupakan bagian dari strategi untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan dan menarik lebih banyak pengunjung.
“Pasar Johar harus hidup dan ramai. Kehadiran usaha baru seperti ini justru menjadi daya tarik baru bagi masyarakat,” jelasnya.
Amoy juga menyesalkan munculnya isu yang menyeret ranah pribadi dan tidak berdasar. Ia meminta masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial.
“Jangan sampai informasi yang tidak benar justru menyerang pribadi. Fokus saja pada dampak positifnya, karena ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha lain,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah terbuka bagi siapa saja yang ingin berusaha di Pasar Johar selama memenuhi aturan yang berlaku.
“Siapa pun yang ingin berjualan di Johar, kami persilakan. Yang penting sesuai prosedur dan bisa memberikan dampak positif bagi pasar,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





