Pendidikan

Peduli Keberagaman, Wartawan Bekali Pelajar SMKN 1 Sayung Lawan Intoleransi di Sekolah

×

Peduli Keberagaman, Wartawan Bekali Pelajar SMKN 1 Sayung Lawan Intoleransi di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Peduli Keberagaman, Wartawan Bekali Pelajar SMKN 1 Sayung Lawan Intoleransi di Sekolah
Workshop literasi budaya dan kewarganegaraan di SMKN 1 Sayung Demak. (Ellya/beritajateng.tv)

DEMAK, beritajateng.tv – Tim Gerakan Literasi Jumat SMKN 1 Sayung (Geliat Skansay) menggelar worksop literasi budaya dan kewargaan yang diikuti oleh siswa-siswi Kelas X.

Kegiatan yang menghadirkan narsumber Nur Zaidi Wartawan Kompas.com tersebut, mengusung tema Memupuk Toleransi dan Empati Menuju Pribadi yang Inklusif.

Dalam kegiatan tersebut, Zaidi mengajak para siswa melihat keberagaman bukan sebagai alasan untuk saling menjauh. Menurut dia, perbedaan justru menjadi bagian dari kehidupan yang harus dipahami dan dihargai.

Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki karakter, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, kemampuan menerima perbedaan menjadi bekal penting bagi pelajar dalam kehidupan sosial.

“Manusia diciptakan sebagai pribadi yang unik dan berbeda. Kita juga hidup di lingkungan yang beragam. Toleransi dan empati menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi yang inklusif di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial di Indonesia,” kata Zaidi, Rabu, 7 Oktober 2026.

Menurut Zaidi, sikap toleran tidak cukup hanya dengan memahami perbedaan. Pelajar juga perlu membangun empati dengan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.

Sikap tersebut dapat mulai dari lingkungan terdekat. Misalnya dengan menghargai teman yang memiliki kebiasaan berbeda, tidak melakukan perundungan, serta menciptakan ruang belajar yang aman bagi semua siswa.

BACA JUGA: Cegah Tawuran Antar Pelajar, Polsek Sayung Gelar Jumat Curhat di Sekolah 

“Mari kita ciptakan suasana yang aman, nyaman, dan mendukung bagi semua orang tanpa terkecuali,” imbuhnya.

Kepala SMKN 1 Sayung, Sunar, mengatakan pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik. Sekolah tidak hanya bertugas meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kesadaran siswa dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, sekolah terus mendorong berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap keberagaman. Workshop literasi budaya dan kewargaan menjadi salah satu sarana untuk menanamkan nilai tersebut.

“Toleransi itu penting, apalagi kita hidup di negara Pancasila. Kita harus bisa menerima segala bentuk perbedaan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kita,” ujar Sunar.

Ia berharap nilai toleransi yang di peroleh siswa tidak berhenti pada kegiatan workshop. Sikap tersebut harapannya menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Ketua Geliat Skansay, Dewi Wulansari, mengatakan penguatan literasi budaya dan kewargaan penting untuk membentuk karakter siswa yang mampu hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan.

Menurut dia, budaya toleransi dan empati perlu di bangun melalui pembiasaan. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami konsep keberagaman, tetapi mampu menerapkannya dalam interaksi sehari-hari.

“Semakin kuat budaya toleransi dan empati, para siswa harapannya dapat membangun kehidupan yang lebih harmonis. Melalui pembiasaan sikap toleran dan empatik, kami berharap semakin banyak individu yang mampu menjadi pribadi inklusif,” kata Dewi. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp