“Gadai Peduli kami hadirkan dengan sewa modal 0 persen. Masyarakat hanya membayar biaya administrasi, dengan pinjaman maksimal Rp2,5 juta. Program ini kami tujukan untuk masyarakat yang terdampak PHK atau yang baru merintis usaha,” ungkap Tyas.
Untuk tahun 2026, Pegadaian masih akan mengevaluasi keberlanjutan program tersebut.
Gadai Peduli
Tyas menegaskan bahwa Gadai Peduli bukan produk baru, melainkan fitur tambahan dari skema gadai yang sudah ada.
Dari sisi minat investasi, Pegadaian mencatat masyarakat masih cenderung memilih cicil emas fisik daripada tabungan emas. Namun, keterbatasan stok emas fisik di pasaran membuat sebagian nasabah mulai beralih ke tabungan emas berbasis digital.
“Beberapa waktu lalu, stok emas fisik di toko, galeri, hingga Antam memang terbatas. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk mulai beralih ke tabungan emas atau transaksi digital,” ujarnya.
Meski demikian, Pegadaian mengakui masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan literasi digital, khususnya di Jawa Tengah dan DIY. Banyak masyarakat yang masih merasa lebih aman berinvestasi dengan memegang emas secara fisik.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kami di 2026. Literasi digital, terutama terkait investasi emas, harus terus meningkat agar masyarakat semakin percaya dan nyaman bertransaksi secara digital,” kata Tyas.
Outstanding Loan Emas
Berdasarkan data tahun 2025, nilai outstanding loan emas di wilayah Pegadaian Kanwil XI Semarang mencapai sekitar Rp1 triliun.
Jika di konversi ke gramasi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 500 kilogram emas yang tersalurkan melalui produk penjualan dan pembiayaan emas, belum termasuk tabungan emas.
“Angka itu baru dari jual emas dan cicil emas. Tabungan emas belum kami hitung karena sifatnya konversi uang ke emas secara bertahap,” pungkas Tyas. (*)
Editor: Elly Amaliyah





