Ia menyebut peningkatan pekerja informal umumnya terjadi di wilayah yang memiliki potensi pertanian tinggi.
“Biasanya kalau musim panen kan di bulan-bulan Februari. Ya pasti ada kenaikan, misalnya pekerjaan buruh tani yang sifatnya subsisten atau kerja upah di pertanian itu biasanya banyak di bulan-bulan ini,” lanjut Ali.
Angkatan Kerja Baru Banyak yang Belum Masuk Sektor Formal
Selain faktor musiman, Ali menilai peningkatan pekerja informal juga berkaitan dengan bertambahnya angkatan kerja baru setiap tahun.
Ali menyebut, tidak seluruh tambahan tenaga kerja dapat langsung terserap ke sektor formal sehingga sebagian akhirnya masuk ke sektor informal.
“Ketika tidak semua terserap ke formal, mereka kembali ke informal biasanya,” ujarnya.
BACA JUGA: Paguyuban Pekerja Terminal Bawen Gelar Aksi Tutup Kios dan Gerai Agen Tiket Serentak
Ia menilai pola tersebut tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, melainkan juga muncul di sejumlah wilayah lain di Indonesia.
“Itu saya kira pola yang tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, tapi juga di sebagian besar wilayah Indonesia kondisinya seperti itu,” katanya.
BPS Sebut Sektor Formal Masih Topang Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Jateng
Meski sektor informal memiliki peran penting dalam menopang perekonomian utamanya saat kondisi ekonomi melemah, Ali menilai sektor formal masih menjadi harapan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, sektor informal selama ini kerap menjadi bantalan ketika terjadi tekanan ekonomi atau gelombang PHK.
“Saya kira kita tahu bahwa sektor informal sebenarnya menopang perekonomian ketika krisis,” ujarnya.
Ali menilai sektor formal menawarkan sejumlah keuntungan yang lebih stabil, mulai dari tingkat upah, jaminan sosial, hingga jenjang karier.
“Betul, jaminan sosialnya ada. Kemudian upahnya cenderung lebih baik daripada informal dan ada jenjang kariernya juga,” jelasnya.
Ia berharap pengembangan kawasan industri maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jawa Tengah dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja formal.





