SEMARANG, beritajateng.tv – Jumlah pekerja informal di Jawa Tengah terus menunjukkan peningkatan pada Februari 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat jumlah pekerja informal mencapai sekitar 13,04 juta orang atau sekitar 61 persen dari total penduduk bekerja di provinsi tersebut.
Jumlah tersebut meningkat ԁibanding Februari 2025 yang tercatat sekitar 12,65 juta orang. Di sisi lain, jumlah pekerja formal hanya mengalami kenaikan tipis dari 8,28 juta orang menjadi 8,34 juta orang.
Kondisi itu membuat dominasi pekerja informal di Jawa Tengah semakin menguat. Namun, Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Ali Said, menilai peningkatan pekerja informal tidak serta-merta menunjukkan adanya lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK).
BACA JUGA: FGD Kepatuhan BPJS Ketenagakerjaan di Klaten Dorong Perlindungan Pekerja Lintas Sektor
Menurutnya, kenaikan jumlah pekerja informal ԁipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari masuknya angkatan kerja baru hingga karakter musiman di sektor pertanian.
“Kalau bicara tenaga kerja ini kan ada angkatan kerja baru masuk. Kemudian juga pengaruh musiman pertanian,” ujar Ali Said saat beritajateng.tv jumpai di Kota Semarang, belum lama ini.
Ia mencontohkan sebagian masyarakat yang sebelumnya tidak bekerja, termasuk ibu rumah tangga, bisa masuk ke sektor informal saat musim tertentu.
“Dulunya mungkin dia enggak bekerja, mungkin dia sebagai ibu rumah tangga, ketika ada musim panen di pertanian dia secara musiman masuk ke situ juga bisa. Jadi tidak selalu mengindikasikan adanya PHK,” imbuhnya.
Musim Panen Dorong Penyerapan Pekerja Informal di Sektor Pertanian
Ali menjelaskan sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama peningkatan pekerja informal di Jawa Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut biasanya terjadi pada Februari yang bertepatan dengan musim panen di sejumlah daerah.
Ia mengatakan pekerjaan seperti buruh tani harian maupun pekerja pertanian berbasis upah cenderung meningkat pada periode tersebut.
“Biasanya kalau di bulan Februari itu karena musim panen, di sektor pertanian yang tinggi itu bisa banyak menyerap tenaga kerja informal di sana,” katanya.





