SEMARANG, beritajateng.tv – Meski belum genap satu semester beroperasi, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, cukup menjanjikan.
Pasalnya, kegiatan usaha KKMP ini terus bertumbuh hingga setiap harinya mampu meraup omzet sebesar Rp3 juta atau mencapai Rp90 juta per bulan.
Padahal, KKMP Lodoyong belum memiliki bangunan gerai koperasi secara mandiri dan saat ini menggerakkan usaha dari bangunan perpustakaan kelurahan setempat.
Namun, saat ini KKMP Lodoyong masih menjadi KKMP/KDMP dengan omzet kegiatan usaha yang paling besar di wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Kepala KKMP Lodoyong, Tri Sasmiyarti, mengungkapkan, aneka komoditas kebutuhan pokok masyarakat dan bahan baku UMKM menjadi penyumbang pendapatan terbesar.
Sampai saat ini sudah ada 28 mitra pelaku UMKM yang menjadi anggota KKMP Lodoyong. Semuanya menjadi andalan dari perputaran roda kegiatan usaha KKMP ini.
Mulai dari penjual sembako, pelaku usaha kuliner, UMKM makanan ringan, hingga warung-warung kelontong rumahan yang ada di lingkungan Kelurahan Lodoyong.
“Sehingga omzet dari kegiatan usaha saat ini bisa mencapai Rp90 juta per bulan,” jelas Tri saat beritajateng.tv konfirmasi di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis, 12 Maret 2026.
Capaian ini, lanjutnya, tentu akan semakin memotivasi segenap pengurus dan anggota koperasi untuk lebih meningkatkan kegiatan usaha dan omzet KKMP Lodoyong ini.
Terlebih, perjalanan kegiatan usaha KKMP Lodoyong ini baru berjalan sekitar enam bulan. Selain itu masih banyak KKMP maupun KDMP lain yang hingga kini juga belum beroperasi.
Marjin Keuntungan Koperasi Merah Putih Lodoyong Ambarawa Relatif Kecil
Salah satu faktor yang mempengaruhi usaha KKMP Lodoyong yakni pengambilan marjin keuntungan yang relatif kecil. Yang penting, kata Tri, perputaran komoditas usaha cepat.
“Keuntungan yang KKMP ini ambil berkisar Rp500 s.d. Rp1.000. Sebab, koperasi ini juga sudah bermitra langsung dengan sejumlah distributor komoditas yang kami jual,” tuturnya.
Pengurus KKMP Lodoyong juga getol menggunakan media sosial untuk mempromosikan produk yang mereka jualnya. “Itu beberapa kiat yang kami lakukan,” imbuhnya.
Tri menyampaikan, meski KKMP Lodoyong telah berjalan, namun belum memiliki gedung mandiri. Di satu sisi, kegiatan usaha terus berkembang dan butuh bangunan yang lebih luas.
“Ruangan di sini sempit dan tersembunyi, tidak terlihat dari jalan. Karena itu kami menunggu keputusan dari pemerintah daerah terkait lahan untuk gerai KKMP,” tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulisityo Bramiyanto, mengapresiasi semangat dan kerja keras pengurus KKMP Lodoyong tersebut.
“KKMP Lodoyong mampu menjawab keinginan dan kebutuhan masyarakat yang ada di lingkungannya hingga mampu baru satu semester meraih omzet Rp3 juta per hari,” ujarnya.
Menurut Bramiyanto, KKMP Lodoyong menjadi potret dari kekuatan SDM pengurus KKMP dan jiwa entrepreneurship. “Mereka mampu mengelola dan melihat ceruk pasar,” kata Bram.
Di Jawa Tengah, lanjutnya, ada 8.523 Koperasi Merah Putih dan yang sudah beroperasi sebanyak 6.271. Dari jumlah tersebut, anggota koperasi tercatat 200.007 orang.
Sementara simpanan dari anggota sebanyak Rp34 miliar. Karena itu, Dinas Koperasi UKM terus mendorong mitra bisnis seperti Bank Jateng, Bulog, BRI, dan produsen pupuk, untuk bergabung.
“Dengan Bank Jateng sudah terkoneksi 4.600 gerai, omzet Rp5 miliar; dengan BRILink, omzet Rp3 miliar. Dengan demikian, potensi lokal yang hadir di KMP adalah kekuatan ekonomi,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





