Dengan melihat potensi geotermal yang besar di Indonesia, PGE berencana untuk terus mengembangkan panas bumi di Area Kamojang sebagai bagian dari upaya ekspansi. Pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik di Indonesia masih rendah.
Saat ini, kapasitas terpasang pembangkit panas bumi secara nasional baru mencapai 2.100 MW, padahal potensi energi panas bumi Indonesia mencapai 24 ribu MW atau 24 Gigawatt. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi masih memiliki potensi yang besar.
Total kapasitas pembangkitan PGE dari 14 area termasuk Kamojang mencapai 672 MW. Selain itu, terdapat pula pembangkit yang beroperasi secara bersama (joint operation) mencapai 1.205 MW.
Menurut Direktur Operasi PGE, Eko Agung Bramantyo, penelitian PGE menunjukkan bahwa terdapat potensi pembangkitan panas bumi hingga 330 MW di Gunung Masigit, yang termasuk dalam Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Kamojang. Potensi serupa juga ada di Area Lahendong.
Namun, PGE tidak akan memilih lagi skema joint operation untuk pengembangan ke depan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Panas Bumi yang memungkinkan pemilik WKP untuk melakukan pengembangan energi panas bumi dari hulu hingga ke hilir.
Untuk mendukung rencana ekspansi ini, PGE telah menyiapkan investasi sebesar 1,6 miliar dolar AS dalam 5 tahun ke depan. Investasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas menjadi 1.272 MW pada tahun 2027, dari 672 MW saat ini.
Investasi
Selain itu, pada tahun 2024, PGE juga akan melakukan investasi baru sebesar total 350 juta dolar AS. Dengan demikian, total investasi PGE dalam periode 2023 hingga 2027 mencapai 1,6 miliar dolar AS.





