Olahraga

Pendapatan Retribusi Belum Maksimal, Meski Delapan Venue Olahraga Dikelola Dispora Semarang

×

Pendapatan Retribusi Belum Maksimal, Meski Delapan Venue Olahraga Dikelola Dispora Semarang

Sebarkan artikel ini
Pendapatan Retribusi Belum Maksimal, Meski Delapan Venue Olahraga Dikelola Dispora Semarang
Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Semarang, Didik Dwi Hartono. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pemuda dan Olahraga mengaku belum bisa memaksimalkan pendapatan retribusi meski selama ini telah mengelola 8 venue fasilitas olahraga di Kota Semarang.

Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Semarang, Didik Dwi Hartono, mengakui masih ada sejumlah kendala yang membuat penerimaan retribusi belum optimal.

Salah satunya adalah penutupan beberapa venue akibat perbaikan serta rendahnya tingkat kunjungan di sejumlah fasilitas olahraga.

Hingga pertengahan 2026, realisasi pendapatan retribusi masih jauh dari target Rp12 miliar yang di bebankan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Semarang.

“Dinas Pemuda dan Olahraga merupakan salah satu OPD penghasil PAD. Kami mengelola delapan venue olahraga yang seluruhnya memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah,” kata Didik.

Delapan fasilitas tersebut berada di bawah pengelolaan UPTD Gelanggang Olahraga. Di antaranya GOR Trilomba Juang, Manunggal Jati, GOR Citarum, Lapangan Sidodadi, Lapangan Tenis Tambora, Sport Center Mangkang Wetan, Sirkuit Mijen, dan satu venue olahraga lainnya.

Menurut Didik, selama ini kontribusi terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih berasal dari GOR Trilomba Juang, Manunggal Jati, dan GOR Citarum. Sementara beberapa venue lain belum mampu menghasilkan pendapatan secara maksimal.

“Penyumbang PAD terbesar masih Trilomba Juang, Manunggal Jati, dan sebagian dari Citarum. Venue lainnya masih terus kami optimalkan,” ujarnya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sport Center Mangkang Wetan yang hingga kini masih minim aktivitas.

Didik menilai kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari lokasi yang cukup jauh dari pusat kota hingga fasilitas yang dinilai belum memenuhi harapan masyarakat.

“Mungkin aksesnya cukup jauh dari perkotaan. Kemudian fasilitasnya juga mungkin belum sesuai dengan harapan pengunjung. Tetapi kami terus berbenah dan setiap masukan menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas layanan,” jelasnya.

Selain rendahnya kunjungan, proses renovasi sejumlah venue juga berdampak langsung terhadap penerimaan retribusi.

BACA JUGA: Lintasan Atletik TLJ Semarang Tutup Sementara Mulai 15 Juli, Pelari Bisa Beralih ke Lapangan Sidodadi 

Lintasan atletik di GOR Trilomba Juang, misalnya, mulai tutup sementara sejak 15 Juli 2026 untuk mendukung pekerjaan perbaikan. Penutupan tersebut otomatis mengurangi pendapatan dari sewa fasilitas maupun retribusi parkir.

“Kalau venue ditutup karena perbaikan, tentu aktivitas masyarakat berhenti dan pendapatan ikut berkurang. Itu salah satu penyebab target retribusi belum bisa tercapai,” katanya.

Didik mengungkapkan, capaian retribusi pada 2025 hanya sekitar Rp7,4 miliar. Tahun ini target naik menjadi Rp12 miliar.

Meski demikian, pihaknya tetap menyiapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan daya tarik fasilitas olahraga. Salah satunya melalui revitalisasi kolam renang Manunggal Jati yang kondisinya mulai menua.

“Kolam renang Manunggal Jati usianya sudah sekitar 30 tahun. Saat ini memang ada beberapa bagian yang bocor sehingga perlu rehabilitasi agar kembali layak digunakan masyarakat,” ungkapnya.

Saat ini, proses revitalisasi masih memasuki tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED). Dokumen tersebut targetnya selesai pada tahun 2026 sebelum pekerjaan fisik pada 2027.

“Tahun ini kami fokus menyelesaikan DED. Setelah itu, kami usulkan anggaran pembangunan agar tahun depan bisa langsung di eksekusi,” pungkas Didik. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp