Ia menilai, event budaya seperti Perang Obor mampu menggerakkan ekonomi warga, sekaligus memperkenalkan identitas lokal Jepara kepada masyarakat luas. Terbukti, antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak sore hari. Banyak pengunjung datang dari luar daerah untuk menyaksikan langsung tradisi khas Jepara tersebut.
Salah seorang pengunjung, Jatus, mengaku sengaja datang bersama keluarganya dari daetah Batealit Jepara untuk menikmati kemeriahan Perang Obor. “Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” ujarnya.
Ia mengatakan meski hujan sempat turun, masyarakat tetap bertahan memenuhi lokasi acara. Ia berharap, tradisi tersebut ke depan semakin ramai dan terus terlestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Jepara.
Di sisi lain, Perang Obor juga menjadi bagian hidup masyarakat Tegalsambi yang terlibat langsung sebagai pelaku tradisi. Salah satunya Petruk, warga yang sudah mengikuti Perang Obor sejak tahun 2000 atau sekitar 26 tahun terakhir.
“Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” katanya.
Tak hanya dia, tradisi tersebut kini juga anaknya teruskan sebagai generasi penerus keluarga. “Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya.
BACA JUGA: Libur Panjang Idul Adha 2026, Pertamina Jamin Pasokan BBM dan LPG di Jateng-DIY Aman
Ia berharap Perang Obor tetap lestari dan semakin masyarakat kenal luas tanpa kehilangan nilai budaya yang leluhur wariskan.
Sebagai informasi, Tradisi Perang Obor sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020. (*)
Editor: Farah Nazila





