Jateng

Perang Sarung Malam-malam, Remaja di Grobogan Tewas

×

Perang Sarung Malam-malam, Remaja di Grobogan Tewas

Sebarkan artikel ini
Mahasiswi Undip | kereta api Darso Polda
Ilustrasi orang meninggal dunia. (an)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus remaja tewas usai perang sarung mengguncang warga Desa Termas, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu malam, 25 Februari 2026, sekitar pukul 23.00 WIB. Korban berinisial ZMR, 16 tahun, masih duduk pada bangku kelas IX SMP.

Berdasarkan keterangan keluarga, ZMR mengikuti perang sarung bersama tujuh temannya. Kegiatan tersebut berlangsung tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka.

Warga sekitar menyebut para remaja itu memang sering bermain bersama setiap hari.

Sekitar pukul 23.00 WIB, insiden terjadi saat perang sarung berlangsung. Belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab pasti korban kehilangan nyawa.

BACA JUGA: Hujan Deras dan Angin Kencang Terjang Semarang, 53 Pohon Tumbang, Satu Warga Meninggal Dunia

Namun, keluarga menerima kabar sekitar 30 menit setelah kejadian. Teman-temannya membawa ZMR pulang ke rumah dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Sesampainya pada rumah, ibu korban langsung meminta keluarga membawa ZMR ke puskesmas terdekat. Tenaga kesehatan berupaya memberikan penanganan awal. Korban tercatat berada pada puskesmas hingga sekitar pukul 03.00 WIB.

Kondisi ZMR tidak kunjung membaik sehingga keluarga memutuskan membawa ke rumah sakit. Petugas kemudian merujuk korban ke RSUD Soedjati Purwodadi untuk penanganan lebih lanjut. Sayangnya, nyawa remaja tersebut tidak tertolong.

Kakek korban, Muh, menyampaikan bahwa cucunya hanya mengalami luka memar pada bagian tengkuk. Pihak keluarga menilai luka tersebut tidak tampak berat secara kasatmata. Meski demikian, kejadian itu berujung duka mendalam bagi keluarga besar.

Kronologi Remaja Tewas Perang Sarung di Grobogan

Peristiwa remaja tewas usai perang sarung ini bermula dari aktivitas para remaja yang berkumpul pada Rabu, 25 Februari 2026 malam.

Mereka kemudian sepakat melakukan perang sarung seperti kebiasaan sebelumnya. Sekitar setengah jam setelah insiden, teman-teman korban mengantar pulang ZMR ke rumah.

Ibu korban segera meminta pertolongan medis begitu melihat kondisi anaknya. Tenaga kesehatan puskesmas mencoba memberikan tindakan darurat. Setelah beberapa jam observasi, keluarga membawa korban ke rumah sakit daerah.

Keesokan harinya, pihak keluarga menyatakan penolakan terhadap rencana autopsi. Muh menegaskan keluarga telah mengikhlaskan kepergian korban.

Keluarga ingin proses pemakaman segera terlaksana tanpa prosedur autopsi.

Selain itu, Muh menjelaskan bahwa tujuh remaja yang terlibat merupakan tetangga dekat.

Orang tua mereka juga memiliki hubungan pertemanan dengan keluarga korban. Situasi tersebut membuat suasana lingkungan semakin haru.

BACA JUGA: Hendak Selip, Pengendara Motor di Salatiga Tertabrak Truk Hingga Meninggal Dunia

Sementara itu, jajaran Polres Grobogan menyatakan akan menyampaikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut.

Aparat masih mengumpulkan informasi guna memastikan penyebab pasti kematian. Publik pun menanti penjelasan lengkap dari kepolisian. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp