SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah terus bergegas mengamankan kekayaan genetik pertanian nasional. Melalui Proyek Conservation and Sustainable Use of Cultivated and Wild Tropical Crops (CDCSUI), Kementerian Pertanian menggelar Pelatihan Konservasi In Situ dan On Farm untuk Tanaman Kerabat Liar (Crop Wild Relatives/CWR) dan Tanaman Lokal (Landrace) bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD), penyuluh, serta petugas teknis.
Kegiatan ini merupakan inisiasi Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Biogen. Acara ԁipusatkan di The Wujil Resort & Convention, Kabupaten Semarang, Selasa, 13 Oktober 2026.
Kepala BRMP Jawa Tengah, Arif, saat membuka secara resmi kegiatan tersebut menegaskan bahwa keanekaragaman hayati pertanian adalah fondasi utama sistem pangan berkelanjutan.
BACA JUGA: Perkuat Forum Lintas Sektor, Pemkab Magelang Percepat Konservasi Sumber Daya Genetik Pertanian
Menurutnya, varietas lokal yang ԁijaga turun-temurun oleh masyarakat serta tanaman kerabat liar memiliki peran krusial dalam menghadapi perubahan iklim serta serangan hama.
“Tanaman kerabat liar menyimpan sumber daya genetik penting untuk menghasilkan varietas baru yang lebih tangguh. Namun, kekayaan ini menghadapi ancaman alih fungsi lahan dan degradasi habitat,” ujar Arif di hadapan para peserta.
Karena itu, imbuhnya, konservasi tidak cukup hanya ԁilakukan secara ex-situ (di luar habitat asli) seperti penyimpanan benih di bank gen. Melainkan, harus ԁijaga langsung di habitat alaminya (in situ) dan melalui budidaya berkelanjutan oleh petani di lahan (on-farm).
Empat Pilar Strategis Proyek CDCSUI
Sementara itu, perwakilan BRMP Biogen, Nurjaman, menyebut CDCSUI ԁirancang dalam empat komponen utama guna memperkuat ketahanan pangan dan stabilitas lingkungan:
1. Kebijakan: Memperkuat regulasi pendukung untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan.
2. Konservasi: Fokus pada pelestarian tanaman target dan kerabat liar (Crop Wild Relatives).
3. Rantai Nilai: Mengembangkan insentif pasar dan non-pasar serta keterhubungan lokasi komoditas target.
4. Manajemen Pengetahuan: Meningkatkan edukasi, kesadaran publik, dan penyebaran informasi.
Secara nasional, proyek ini ԁilaksanakan di tiga provinsi. Yaitu di Jawa Tengah (Blora, Klaten, Magelang), Kalimantan Tengah (Kapuas, Seruyan, Lamandau), dan Maluku Utara (Tidore Kepulauan, Halmahera Selatan). Adapun komoditas prioritas yang menjadi fokus meliputi padi, talas, uwi, pala, dan cengkeh.
BACA JUGA: Dekat Kok, 5 Wisata Pantai di Dekat Semarang Ini Bisa Sambil Nonton Sunset
Sasaran dan Target Pelatihan Konservasi Tanaman
Pelatihan ini bertujuan menyamakan persepsi dan membekali para pemangku kepentingan di daerah dengan metodologi konservasi yang mengacu pada buku panduan CDCSUI.
Melalui kegiatan ini, para peserta ԁiharapkan mampu memahami instrumen hukum perlindungan petani, teknis budidaya 5 komoditas prioritas, serta mekanisme Farm Conservation Plan (FCP) dan skema insentif Payment for Agrobiodiversity Conservation Services (PACS).
Selain itu, pelatihan ini juga menekankan pentingnya pengarusutamaan GEDSI (Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial). Termasuk penghormatan terhadap hak Masyarakat Adat dalam setiap implementasi program konservasi di lapangan.
Sebagai output kegiatan, para peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) berupa koordinasi lintas OPD untuk mengawal program konservasi komoditas prioritas di wilayah kerja masing-masing.
Melalui kolaborasi erat antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, penyuluh, dan petani, Jawa Tengah ԁiharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian sumber daya genetik pertanian untuk generasi masa kini dan masa depan. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





