SALATIGA, beritajateng.tv — Di tengah derasnya arus digitalisasi, kebiasaan membaca buku fisik memang mulai tergerus. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat sekelompok anak muda di Kota Salatiga untuk menjaga eksistensi buku sebagai sumber ilmu.
Melalui Komunitas Perpustakaan Jalanan, mereka menghadirkan ruang baca gratis bagi masyarakat. Setiap Kamis sore mulai pukul 15.00 WIB, puluhan buku berlangsung di kawasan pedestrian depan Mapolres Salatiga, tepatnya di sekitar Alun-alun Pancasila.
Masyarakat yang melintas dipersilakan membaca berbagai koleksi buku tanpa dipungut biaya. Syaratnya pun sederhana, yakni hanya membaca di tempat.
“Semua bisa dibaca secara cuma-cuma, syaratnya hanya satu, buku dibaca di tempat,” ujar Sidqon Khasani (22), salah satu pegiat komunitas tersebut.
BACA JUGA: Masuk Perpustakaan Provinsi Jateng Bayar Parkir Hingga Rp4 Ribu, Ahmad Luthfi Janji Evaluasi
Komunitas ini baru berjalan sekitar satu bulan. Inisiatif tersebut muncul dari keresahan para pegiat terhadap menurunnya minat baca di kalangan masyarakat.
Berangkat dari hal itu, mereka mengumpulkan buku dari koleksi pribadi, kemudian tambah dengan donasi dari berbagai pihak yang mendukung gerakan literasi ini.
“Kami prihatin, semakin ke sini minat baca masyarakat semakin menurun,” lanjut Sidqon.
Selain menjadi ruang baca alternatif, perpustakaan jalanan ini juga bertujuan membuka akses literasi bagi semua kalangan, tanpa memandang usia maupun latar belakang.
Pasalnya, tidak semua masyarakat memiliki akses mudah terhadap buku, baik di perpustakaan umum maupun fasilitas pendidikan.
Respon masyarakat pun positif. Mulai dari anak-anak, pelajar, hingga orang dewasa terlihat memanfaatkan fasilitas ini.
BACA JUGA: DPRD Jateng Sahkan Perda Penyelenggaraan Perpustakaan
Salah satunya Muh Ilham (42), yang mengaku senang bisa membaca berbagai jenis buku secara gratis, terutama bacaan seputar berkebun.
“Yang paling saya suka, bisa cari bacaan tentang berkebun di sini,” ujarnya.
Kehadiran perpustakaan jalanan ini menjadi bukti bahwa di tengah era digital, semangat literasi berbasis buku fisik masih tetap hidup—bahkan tumbuh dari tangan-tangan anak muda yang peduli. (*)
Editor: Farah Nazila
Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.
Gabung Channel WhatsApp





