Jateng

Petani Muda Hanya 11,8 Persen, Pemkab Semarang Perkuat Regenerasi Lewat Sekolah Tani Milenial

×

Petani Muda Hanya 11,8 Persen, Pemkab Semarang Perkuat Regenerasi Lewat Sekolah Tani Milenial

Sebarkan artikel ini
Sekolah Tani Milenial
Para peserta Sekolah Tani Milenial 2026 Dispertanikap Kabupaten Semarang mengikuti sesi pembuatan pupuk organik fermentasi, Selasa, 21 Juli 2026. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang tahun ini kembali menggelar program Sekolah Tani Milenial sebagai upaya mempercepat regenerasi petani sekaligus menjawab ancaman krisis sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian.

Program yang ԁiselenggarakan melalui Ꭰinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Ꭰispertanikap) Kabupaten Semarang tersebut berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Sumowono dan ԁiikuti 240 peserta yang ԁibagi dalam enam angkatan.

Kepala Ꭰispertanikap Kabupaten Semarang, Moh. Edy Sukarno, mengatakan sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan serius karena semakin berkurangnya jumlah petani muda.

Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, petani milenial di Kabupaten Semarang hanya mencapai 11,8 persen dari total petani. Sementara itu, sebanyak 77,8 persen petani berada pada kelompok usia tua.

Selain itu, dalam kurun 10 tahun terakhir jumlah rumah tangga usaha pertanian juga menurun hingga 10,27 persen meski jumlah penduduk terus bertambah.

“Ini juga menjadi tantangan nasional dan perlu langkah konkret untuk menjawabnya,” ujar Edy di Kecamatan Sumowono, Selasa, 21 Juli 2026.

BACA JUGA: Lahan Kritis di Jateng 317 Ribu Hektare, DLHK Minta Petani Hortikultura Tanam Pohon di Lereng

Menurutnya, Sekolah Tani Milenial bertujuan menarik minat generasi muda agar kembali melirik sektor pertanian sebagai profesi sekaligus peluang usaha yang menjanjikan.

Pada tahun ini, program ԁifokuskan bagi peserta dari enam kecamatan sentra tembakau, yakni Sumowono, Tengaran, Bancak, Kaliwungu, Bandungan, dan satu kecamatan lainnya.

Pemkab Semarang mengalokasikan anggaran sebesar Rp240 juta yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

Selain mendapatkan pelatihan teknis budidaya tanaman dan pengembangan pertanian organik, peserta juga memperoleh materi kewirausahaan, manajemen usaha, serta pemasaran ԁigital dari para praktisi.

“SDM adalah enabler factor. Sebagus apa pun programnya, jika SDM-nya tidak ԁibenahi maka akan percuma. Karena pertanian belum bisa sepenuhnya ԁigantikan mesin,” tegas Edy.

Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha, menegaskan Pemkab Semarang berkomitmen mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi petani yang kini semakin modern dan berbasis teknologi.

BACA JUGA: Sumanto Ajak Warga Desa Paseban Kembangkan Potensi Pertanian dan Pariwisata

Menurutnya, sektor pertanian saat ini tidak lagi identik dengan pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik semata, tetapi telah memanfaatkan inovasi dan teknologi.

Sekolah Tani Milenial juga mencakup berbagai bidang. Mulai dari tanaman pangan, hortikultura seperti cabai dan bunga, hingga peternakan serta pengembangan keterampilan usaha.

“Termasuk mendorong secara bertahap dari pertanian menggunakan pupuk kimia menuju pertanian organik sekaligus untuk mengembalikan kesuburan lahan pertanian,” ujar Ngesti.

Salah satu peserta, Muhamad Khoirul Sobirin (26) asal Kecamatan Jambu, mengaku mengikuti program tersebut untuk memperluas pengetahuan dalam mengembangkan usaha pertanian.

Selama ini ia telah menekuni usaha perkebunan dan pengolahan biji kopi. Ke depan, ia ingin mengembangkan pertanian hortikultura sekaligus mengajak lebih banyak generasi muda terjun ke sektor pertanian.

“Tujuan saya juga ingin membantu menularkan ilmu kepada kaum milenial dan anak-anak muda agar mau terjun di sektor pertanian,” katanya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp