SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 18 ribu lebih pekerja di Jateng terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK sepanjang 2025.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, jumlah PHK sepanjang 2025 mencapai 18.101 orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya berasal dari satu kelompok usaha, yakni Grup Sritex.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, menyebut data PHK tersebut bersumber dari laporan kabupaten/kota yang dihimpun dari perusahaan-perusahaan di wilayah masing-masing.
“Kalau secara keseluruhan terkait data PHK tahun 2025 ini, datanya insyaallah valid karena merucut dari sumbernya dari kabupaten/kota, dari perusahaan-perusahaan yang ada. Totalnya ada 18.101 yang ter-PHK,” ujar Aziz saat beritajateng.tv jumpai di kantornya, belum lama ini.
BACA JUGA: Bangkit dari PHK, Tim Jasa Suruh Semarang Bertahan Hidup dan Menemukan Makna Baru
Aziz menjelaskan, dari total 18.101 pekerja yang terkena PHK, sebanyak 10.632 orang berasal dari Grup Sritex yang berakhir pailit.
“Dari 18.000 lebih itu, ada 10.632 dari grup Sritex,” katanya.
Ia merinci, PHK di Grup Sritex berasal dari empat perusahaan, yakni Sritex di Kabupaten Sukoharjo sebanyak 8.475 orang, PT Prima Yuda Mandiri Jaya di Kabupaten Boyolali sebanyak 956 orang, PT Bitratex di Kota Semarang sebanyak 1.161 orang, serta PT Sinar Panca Jaya di Kota Semarang sebanyak 40 orang.
“Jadi itu grupnya Sritex yang pailit, terus terjadi PHK,” jelas Aziz.
Perusahaan di Jateng yang Terdampak PHK Selain Grup Sritex
Selain Grup Sritex, PHK juga terjadi di sejumlah perusahaan lain dengan jumlah yang bervariasi. Aziz menyebut, salah satu daerah dengan angka PHK cukup menonjol berada di Kabupaten Purbalingga.
“Di Purbalingga itu ada empat perusahaan yang PHK-nya lebih dari 100 orang,” ujarnya.
Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di sektor industri rambut palsu dan bulu mata palsu. Selain itu, PHK juga terjadi di berbagai sektor lain.
“Sektornya ada garmen, tekstil, industri kertas, pembuatan tas, produksi olahan kayu, industri sepatu, olahraga, dan kesehatan,” kata Aziz.
BACA JUGA: Angka PHK di Jateng Tertinggi Nasional: Kalau Tidak karena Sritex, Jumlahnya Sedikit
Ia menegaskan, penyebab PHK di luar Grup Sritex tidak tunggal. Sebagian perusahaan mengalami pailit dan tutup, sementara lainnya melakukan PHK karena penurunan produksi dan pemasaran, hingga efisiensi.
“Ada perusahaan yang masih berjalan, tapi di bagian tertentu ada pengurangan karena efisiensi,” jelasnya.
Selain itu, PHK juga terjadi pada pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) yang kontraknya tidak diperpanjang.
“PKWT itu artinya kontrak. Ketika kontraknya habis dan kondisi perusahaan dilihat belum bagus, maka sementara tidak perpanjang dulu. Nanti kalau kondisinya membaik, bisa rekrutmen lagi,” ujar Aziz.
Meski PHK Tinggi, Aziz Ungkap Tingkat Pengangguran Terbuka Jateng Turun
Meski angka PHK pada 2025 tergolong tinggi, Aziz menyebut kondisi tersebut tidak serta-merta mendorong lonjakan pengangguran di Jawa Tengah. Berdasarkan data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Jawa Tengah justru mencatat penurunan.
“Kalau kita lihat TPT Jawa Tengah per Agustus 2025 itu 4,66 persen, turun dari Agustus 2024 yang 4,78 persen,” jelasnya.
Angka TPT 4,66 persen tersebut, kata Aziz, setara dengan sekitar 1,04 juta orang pengangguran. Aziz menjelaskan, data Agustus dinilai lebih mencerminkan kondisi riil karena menghitung lulusan baru yang masuk pasar kerja.
“TPT itu hitungnya mulai usia 15 tahun. Tapi perlu ingat, usia boleh bekerja itu 18 tahun. Yang di bawah 18 itu konteksnya bukan bekerja, tapi dipersiapkan skill dan soft skill-nya,” katanya.
BACA JUGA: Kota Semarang: 1.750 Pekerja Kena PHK, Mayoritas Terdampak Pailit Sritex
Ketimbang provinsi lain, TPT Jawa Tengah tergolong lebih rendah. Ia menuturkan, Jawa Barat mencatat TPT 6,77 persen, Banten 6,69 persen, dan DKI Jakarta 6,05 persen. Sementara itu, kata Aziz, Jawa Timur berada di angka 3,88 persen dan Daerah Istimewa Yogyakarta 3,46 persen.
Ia menilai, penurunan TPT tersebut menunjukkan penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah masih berjalan cukup baik, didorong oleh masuknya investasi dan aktivitas industri.
“Secara nasional TPT itu 4,85 persen. Artinya Jawa Tengah di bawah nasional. Penyerapan industri dan investasi di Jawa Tengah cukup masif, sehingga bisa mengurangi pengangguran. Selain itu, ada juga yang bekerja ke luar negeri,” pungkas Aziz. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





