Dengan strategi tersebut, hotel dia harapkan dapat menawarkan produk yang kompetitif. Sekaligus menjaga tingkat hunian di tengah perubahan permintaan pasar.
Pasar Domestik Masih Mendominasi Hotel Semarang
Bersamaan dengan itu, Albert menyebut pasar domestik masih menjadi penyumbang utama tamu hotel di Kota Semarang.
Dia juga melihat adanya peningkatan aktivitas pasar internasional pada semester kedua 2026.
Peningkatan tersebut, menurut Albert, berkaitan dengan perkembangan kawasan industri di Jawa Tengah. Termasuk di Semarang, Kendal, hingga Batang.
BACA JUGA: Ahmad Luthfi Optimistis Investasi Jateng Capai Rp110 Triliun hingga Akhir 2026
Albert mengatakan, masuknya investasi dari sejumlah negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan turut memberikan dampak terhadap aktivitas bisnis dan kebutuhan akomodasi di kawasan tersebut.
“Kalau Semarang tetap masih dominasi pasar domestik. Tetapi memang terasa di semester dua ini banyak peningkatan jumlah industri, terutama dengan berkembangnya kawasan industri sampai Kendal,” katanya.
Albert menilai perkembangan investasi turut membuka peluang bagi sektor perhotelan. Khususnya melalui kebutuhan akomodasi dari pelaku usaha, pekerja, maupun tamu yang berkaitan dengan kegiatan industri.
Albert juga menyebut sepanjang 2026 terdapat perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang memindahkan sebagian aktivitas bisnisnya ke Jawa Tengah, terutama Kota Semarang dan wilayah sekitarnya.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi peluang tambahan bagi industri perhotelan untuk memperluas pasar di luar wisatawan domestik. Sekaligus menjaga permintaan kamar di tengah fluktuasi okupansi menjelang akhir tahun.
PHRI Jateng berharap pengusaha hotel dapat memanfaatkan momentum libur Desember serta pertumbuhan kawasan industri untuk mempertahankan kinerja usaha hingga memasuki 2027. (*)
Editor: Diaz A Abidin





