Kehadiran banyak vendor, tamu, peserta dan pengunjung khawatirnya membuat kawasan Simpang Lima semakin padat jika seluruh PKL tetap berjualan seperti biasa.
“Kalau vendor sudah banyak, tamu datang dalam jumlah besar, kemudian PKL tetap berada di lokasi yang sama, kawasan bisa terlalu padat. Kami ingin pemasaran tetap berjalan dan sekaligus menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya.
Pemkot Siapkan Lokasi Alternatif PKL
Dinas Perdagangan Kota Semarang memastikan pengalihan tidak berarti para PKL kehilangan kesempatan untuk mencari penghasilan selama kegiatan berlangsung.
Pemerintah menyiapkan sejumlah alternatif lokasi yang dapat pedagang gunakan untuk tetap berjualan.
Beberapa titik yang ia tawarkan antara lain Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Gajah Mada, Jalan Ahmad Yani, serta kawasan di depan dan belakang shelter Citraland (CL).
“Intinya, kami tidak hanya mengatakan mereka tidak boleh berjualan. Kami akan bantu mencari lokasi lain yang di rasa aman dan nyaman untuk berjualan,” kata Amoy.
Ia mengatakan para pedagang dapat berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan apabila membutuhkan penyesuaian lokasi.
Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Satpol PP dan Dinas Perhubungan untuk memastikan aktivitas PKL di lokasi alternatif tetap berjalan tertib tanpa mengganggu lalu lintas maupun aktivitas masyarakat.
“Prinsipnya, selama mereka berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan, kami akan berusaha mencarikan solusi. Kami juga akan berkoordinasi dengan Satpol PP dan Dinas Perhubungan,” ujarnya.
Amoy menegaskan pengaturan tersebut bersifat sementara. Pemerintah berharap para PKL dapat memahami kebutuhan penataan kawasan selama MTQ Nasional berlangsung.
Menurutnya, muncul kekhawatiran di kalangan pedagang bahwa mereka akan diliburkan dalam waktu lama. Namun, Pemkot memastikan pengalihan hanya berlaku selama 7-20 September 2026.
“Ada yang mengira mereka akan di liburkan sampai satu bulan. Padahal tidak. Mereka hanya di alihkan sementara,” tegasnya. (*)





