Ia juga berharap momentum penataan Simpang Lima Semarang bisa jadi langkah peremajaan vegetasi agar kawasan tersebut semakin nyaman sekaligus tetap mempertahankan fungsi ruang terbuka hijau.
“Intinya selain penataan nanti juga mungkin ada peremajaan pohon. Saya mengharapkan mungkin ada peremajaan pohon yang kemarin di bersihkan,” katanya.
Lebih lanjut, Danur mengingatkan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau merupakan kebutuhan penting bagi kawasan perkotaan. Karena itu, ia menilai luas RTH tidak seharusnya berkurang akibat proses penataan.
“Ruang terbuka hijau itu sudah ada ketentuannya. Jangan sampai berkurang, justru kalau bisa harus terus ditambah,” tegasnya.
Sebelumnya, pemotongan sejumlah pohon di kawasan Simpang Lima menjadi perbincangan setelah videonya beredar luas di media sosial. Warganet menyoroti hilangnya pohon-pohon peneduh yang selama ini menjadi bagian dari wajah kawasan ikonik Kota Semarang tersebut.
Menanggapi polemik itu, Pemerintah Kota Semarang menjelaskan bahwa penataan Simpang Lima melibatkan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) sesuai kewenangannya masing-masing.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto, mengatakan pihaknya hanya menangani pekerjaan perbaikan infrastruktur berupa lantai di sekitar shelter kuliner Simpanglima.
“Kami hanya mengerjakan perbaikan lantai di kawasan PKL. Untuk penataan kawasan menjadi kewenangan Dinas Perdagangan,” ujarnya.
Sementara itu, terkait pemotongan pohon, Suwarto menegaskan kewenangan tersebut berada di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Semarang.
“Kalau urusan pohon merupakan kewenangan Disperkim. Kemungkinan nanti setelah penataan selesai akan ada penanaman kembali,” pungkasnya.
Tata Ulang Kawasan Simpang Lima
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengatakan revitalisasi mencakup secara keseluruhan. Hal ini agar Simpang Lima Semarang ke depan menjadi ruang publik modern yang dapat seluruh lapisan masyarakat nikmati.
“Simpang Lima adalah wajah Kota Semarang. Karena itu kami ingin menghadirkan kawasan yang lebih nyaman untuk berjalan kaki, lebih teduh, lebih bersih, bebas genangan. Sekaligus tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi dan rekreasi masyarakat,” ujar Agustina.
Menurut Agustin, penataan Simpang Lima juga memperhatikan keberlanjutan ruang hijau.





