SEMARANG, beritajateng.tv – Di balik aliran sungai yang membelah sejumlah kawasan di Semarang, ancaman terhadap ekosistem air tawar perlahan muncul.
Ikan sapu-sapu, spesies invasif yang terkenal tangguh dan cepat berkembang biak, kini semakin mudah ditemukan di berbagai titik sungai kota.
Ikan bernama ilmiah Hypostomus plecostomus ini bukan sekadar penghuni baru. Kehadirannya membawa dampak serius karena dikenal memakan telur ikan lain. Termasuk spesies lokal yang seharusnya berkembang secara alami di perairan tersebut.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh warga Semarang Utara, Nor Rachman. Pria yang gemar memancing itu mengaku semakin sering menemukan ikan sapu-sapu saat beraktivitas di sungai.
“Sekarang hampir setiap mancing pasti dapat ikan sapu-sapu. Populasinya terasa makin banyak,” kata Rachman di kawasan pesisir utara, Senin, 20 April 2026.
Ia menyebut penyebaran ikan tersebut cukup luas, mulai dari aliran sungai di sekitar Jalan Merak, Jalan Ronggowarsito, hingga kawasan Kaligawe. Menurutnya, kondisi ini sudah mengarah pada gangguan serius bagi keseimbangan ekosistem.
“Kalau melihat situasi sekarang, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Jakarta. Ikan ini berkembang cepat dan bisa mengancam ikan-ikan lokal,” ujarnya.
Rachman menjelaskan, keberadaan ikan sapu-sapu membuat upaya pelestarian ikan lokal menjadi tidak efektif. Telur ikan yang baru menetas berisiko habis di mangsa sebelum sempat tumbuh.
BACA JUGA: Rayakan 90 Tahun, Toko Oen Semarang Sajikan Menu Legendaris berkonsep Fine Dining
“Percuma menebar benih ikan lokal kalau predatornya masih banyak. Telurnya di makan, akhirnya tidak berkembang,” katanya.
Sebagai pemancing yang kerap menyusuri sungai pada malam hari, Rachman juga mengungkap perilaku unik ikan tersebut. Ia menyebut ikan sapu-sapu cenderung aktif di malam hari dan bersembunyi di dasar sungai.
“Kalau malam kita sorot pakai senter, jumlahnya kelihatan banyak sekali. Ukurannya juga besar, bisa sampai 30 sampai 40 sentimeter,” ungkapnya.
Fenomena ini mengingatkan pada langkah yang telah Pemerintah lakukan di Jakarta. Pemerintah setempat menggencarkan penangkapan ikan sapu-sapu secara masif sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
Gerakan tersebut bahkan melibatkan sejumlah tokoh publik seperti Pramono Anung dan Deddy Suryadi, serta mendapat perhatian luas di media sosial melalui aksi konten kreator Arief Kamarudin.
Namun hingga kini, upaya serupa belum terlihat masif di Semarang. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan kajian dan langkah konkret untuk mengendalikan populasi ikan invasif tersebut.
“Harapannya ada pengecekan langsung dari pemerintah. Jangan sampai terlambat, karena dampaknya bisa lebih besar ke depan,” kata Rachman.
Dengan meningkatnya populasi ikan sapu-sapu, perhatian terhadap kelestarian ekosistem sungai di Semarang menjadi semakin penting.
Tanpa pengendalian yang tepat, spesies invasif ini berpotensi menggeser keberadaan ikan lokal dan mengganggu keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang. (*)
Editor: Elly Amaliyah




