BACA JUGA: Pengelola Basecamp Gunung Ungaran Tegaskan Bayi Tidak Alami Hipotermia, Anak Rewel Orang Tua Cekcok
Selain memperkuat perlindungan kawasan, BRIN juga menilai penambahan kamera jebak dan pemantauan jangka panjang menjadi langkah penting untuk memperoleh data populasi yang lebih akurat.
Prof. Hendra menambahkan, ancaman terhadap macan tutul Jawa tidak hanya berasal dari penyusutan habitat akibat alih fungsi lahan. Tetapi juga fragmentasi hutan, konflik dengan manusia, serta perburuan satwa mangsa yang mengurangi sumber pakan alami.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, peneliti, lembaga konservasi, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan hidup macan tutul Jawa sebagai predator terakhir yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan di Pulau Jawa. (*)
Editor: Farah Nazila





