Jateng

Produksi Beras di Jateng Alami Penurunan Selama Tiga Tahun Berturut-turut, Apa Alasannya?

×

Produksi Beras di Jateng Alami Penurunan Selama Tiga Tahun Berturut-turut, Apa Alasannya?

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah, Supriyanto di Kantor DPD RI Jawa Tengah, Jumat 15 Maret 2024. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Provinsi Jawa Tengah (Jateng) diketahui menjadi salah satu wilayah penyumbang produksi padi terbesar secara nasional.

Namun, hasil produksi padi dan beras di Jateng konsisten mengalami penurunan, setidaknya selama tiga tahun terakhir, yakni antara 2021-2023.

Berdasarkan data yang Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah unggah di situs webnya, angka produksi padi di Jateng pada 2021 adalah 9.618.657 ton. Sementara pada 2022, angka itu turun menjadi 9.579.069 ton.

Di tahun 2023, angka produksi padi mengalami penurunan cukup pesat menjadi 9.061.715 ton.

Sementara itu, angka produksi beras di Jawa Tengah dengan rentang periode yang sama ialah 5.531.297 ton (2021), 5.508.531 ton (2022), dan 5.211.022 ton (2023).

BACA JUGA: Upayakan Produksi Beras Jateng Capai 1,2 Juta Ton, Kementan Optimalkan Program Pompanisasi

Data tersebut diperbarui pada 2 Mei 2024. Tren penurunan angka produksi padi dan beras di Jawa Tengah sudah berlangsung sejak 2018.

Pada 2018 lalu, produksi padi di Jawa Tengah mencapai 10,49 juta ton. Sementara, pada 2019 angkanya turun menjadi 9,65 juta ton, dan disusul penurunan pada 2020 menjadi 9,48 juta ton.

Pada periode yang sama, produksi beras di provinsi tersebut juga mengalami penurunan, yakni 2018 sebanyak 6 juta ton, 2019 sebanyak 5,52 juta ton, dan 2020 sebanyak 5,45 juta ton.

Alasan penurunan produksi padi, salah satunya alih fungsi lahan

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Supriyanto, mengonfirmasi tren penurunan produksi padi dan beras di Jateng. Menurutnya, tren penurunan itu tak hanya terjadi di Jawa Tengah, namun juga di skala nasional.

“Kami mengalami penurunan juga [di nasional]. Di Jawa Tengah mengalami juga,” ungkap Supriyanto, Senin, 21 Oktober 2024.

Pihaknya mengungkap, khusus tahun 2023, penurunan produksi padi terjadi karena fenomena El Nino.

“Tahun 2023 terutamanya, kemarin kan pengaruh El Nino. El Nino kan berkepanjangan,” sambung Supriyanto.

Ia menambahkan, selain El Nino, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan produksi padi turun. Satu di antaranya adalah kejenuhan lahan.

“Produktivitas lahan, tanahnya yang sudah terlalu lama dan masih menggunakan pupuk kimia. Akhirnya menurunkan daya dukung lahan terhadap produksi,” sambung dia.

Lebih lanjut, faktor lainnya ialah alih fungsi lahan dari pertanian ke nonpertanian.

“Di Jawa Tengah sekitar 1,7 persen rata-rata per tahunnya. Maka impitannya luar biasa,” kata Supriyanto.

Dia menjelaskan, jumlah produksi padi di Jawa Tengah untuk tahun ini hingga November mendatang di prediksi mencapai 8,49 juta ton gabah kering giling (GKG).

Adapun jumlah itu turun jika dibandingkan periode sama tahun lalu, yang mencapai 8,83 juta ton GKG.

“Jadi ada penurunan 347 ribu ton,” jelas Supriyanto.

Dari 8,49 juta ton GKG tersebut, tutur Supriyanto, Jawa Tengah bisa memproduksi 4,88 juta ton beras.

Supriyanto mengungkap, hingga November 2025 mendatang, Jawa Tengah diprediksi masih akan surplus lebih dari 1 juta ton beras.

Pj Nana berkomitmen wujudkan luas tambah tanam di Jawa Tengah

Dalam sebuah wawancara, Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana berkomitmen merealisasikan capaian luas tambah tanam (LTT) padi di wilayahnya.

Pihaknya tak menampik bahwa angka produksi padi dan beras di Jawa Tengah mengalami tren penurunan setidaknya dalam tiga tahun terakhir.

BACA JUGA: Sudah dapat Beras Gratis? 18.567 Keluarga di Jateng Terima Bantuan Intervensi Kerawanan Pangan

Nana mengatakan, pada September lalu, LTT di Jateng mencapai 65.140 hektare.

“Di bulan Oktober ini kita sanggup mencapai 105.000-110.000 hektare. Jadi kita upayakan untuk terus mendekati target yang Kementerian Pertanian tentukan,” ujar Nana, Senin, 14 Oktober 2024 lalu.

Bagi Nana, akselerasi LTT padi memang harus dilakukan, mengingat Jawa Tengah termasuk di antara tiga provinsi yang menjadi tumpuan pangan nasional.

“Selama ini Jawa Tengah dianggap sudah mampu untuk terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas padi. Tetapi masih ada yang akan kita tingkatkan, khususnya dengan perluasan tanam padi,” ucapnya.

Ia menambahkan, upaya peningkatan produksi pertanian Jawa Tengah terbantu dengan adanya bantuan pompanisasi dari pemerintah pusat.

Sejauh ini, kata Nana, sebanyak 5.134 unit pompa sudah didistribusikan ke 35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah. Penggunaan bantuan pompa sudah mencapai 93 persen. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp