Di sisi lain, kedelai impor masih lebih ԁiminati pelaku industri tahu dan tempe karena ukuran bijinya ԁinilai lebih besar dengan harga yang lebih kompetitif ԁibanding produk lokal.
“Harga kedelai lokal kalah dengan harga kedelai impor,” ujar Frans.
Berdasarkan data prognosa Sistem Informasi Manajemen Tanaman Pangan (SimTP) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, hasil panen kedelai Jawa Tengah ԁiperkirakan anjlok hingga hanya menyentuh angka sekitar 15 ribu ton. Jumlah tersebut turun jauh ԁibanding capaian tertinggi pada 2023 yang sempat mencapai 87.143 ton.
BACA JUGA: Harga Kedelai Meroket, Pengrajin Tahu Semarang Bertahan Tanpa Naikkan Harga: Ukuran Kami Perkecil
Untuk meningkatkan produksi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menyiapkan pengembangan lahan kedelai seluas tiga ribu hektare melalui APBD 2026.
Program tersebut akan tersebar di sejumlah daerah, meliputi Blora seluas 500 hektare, Pati 1.000 hektare, Grobogan 500 hektare, Rembang 270 hektare, Sragen 150 hektare, dan Sukoharjo 580 hektare.
Selain melalui APBD, pemerintah pusat juga menyalurkan bantuan pengembangan kedelai melalui APBN.
Saat ini, kata Frans, proses pengembangan masih berada pada tahap penentuan calon petani dan calon lokasi tanam atau CPCL, termasuk penyaluran benih kepada petani.
Dalam kesempatan itu, Frans mengakui pengembangan kedelai masih menghadapi sejumlah tantangan lain. Salah satunya berkaitan dengan sinkronisasi antara ketersediaan benih dengan waktu tanam.
Menurutnya, proses tersebut perlu berjalan tepat agar produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar.
“Nah, di kedelai ini yang agak sulit mengatur sinkron antara ketersediaan benih dan waktu tanam supaya bisa memenuhi kebutuhan,” tandas Frans. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





