Jateng

Proyek WaterWorx Berhasil, PDAM Gandeng Belanda Atasi Krisis Air Bersih Akibat Penurunan Tanah di Semarang

×

Proyek WaterWorx Berhasil, PDAM Gandeng Belanda Atasi Krisis Air Bersih Akibat Penurunan Tanah di Semarang

Sebarkan artikel ini
Proyek WaterWorx Berhasil, PDAM Gandeng Belanda Atasi Krisis Air Bersih Akibat Penurunan Tanah di Semarang
PDAM Tirta Moedal Semarang melakukan tinjauan proyek WaterWorx penurunan tanah di Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – PDAM Tirta Moedal Kota Semarang meningkatkan layanan air bersih di kawasan yang terdampak penurunan muka tanah lewat kolaborasi internasional dengan operator air minum asal Belanda program WaterWorx.

Program tersebut berhasil memulihkan kualitas distribusi air bersih di Kelurahan Kebonharjo, Kecamatan Semarang Utara.

Keberhasilan proyek tersebut melalui verifikasi langsung oleh jajaran direksi PDAM Tirta Moedal bersama mitra dari Belanda saat meninjau lokasi pada Senin, 29 Juni 2026.

Kebonharjo terpilih karena menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak land subsidence. Sekaligus memiliki tingkat kebocoran jaringan air yang cukup tinggi.

Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Semarang, Ady Setiawan, mengatakan rehabilitasi berfokus pada penggantian jaringan pipa yang mengalami penurunan akibat amblesnya permukaan tanah. Sekaligus memperluas sambungan pelanggan.

“Di Kebonharjo kami merehabilitasi jaringan pipa yang terdampak penurunan muka tanah sekaligus memasang sambungan baru. Jaringan lama kami ganti dengan jaringan baru sesuai standar teknis agar pelayanan kembali optimal,” ujar Wawan, sapaannya.

Menurutnya, sebelum proyek berjalan, banyak pelanggan memilih berhenti berlangganan karena kualitas layanan yang kurang maksimal. Setelah jaringan di perbaiki, kondisi tersebut berubah dan masyarakat kembali mempercayai layanan PDAM.

“Setelah rehabilitasi pipa, banyak pelanggan lama kembali menyambung layanan, bahkan muncul pelanggan baru. Kurang lebih ada 500 sambungan pelanggan yang kami tangani dalam proyek ini,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab gangguan distribusi air sebelumnya adalah posisi pipa yang semakin dalam akibat penurunan tanah hingga mencapai dua sampai tiga meter.

BACA JUGA: Polemik Pohon Simpang Lima Ditebang Bikin Makin Panas, Dewan Minta Ada Reboisasi Usai Penataan 

Kini jaringan tersebut telah dipasang kembali dengan kedalaman sesuai standar sehingga distribusi air menjadi lebih lancar.

“Hasil pengecekan langsung kepada warga menunjukkan sekarang air mengalir selama 24 jam. Debitnya sebenarnya sama, tetapi karena kebocoran sudah berkurang, alirannya menjadi jauh lebih baik,” jelasnya.

Keberhasilan proyek di Kebonharjo akan menjadi model penanganan untuk wilayah lain di Kota Semarang. PDAM Tirta Moedal menargetkan tingkat kehilangan air atau kebocoran jaringan yang saat ini masih berada di kisaran 40 persen dapat di tekan secara bertahap.

“Program ini akan kami replikasi di beberapa wilayah lain. Harapannya tingkat kebocoran air bisa terus turun sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin optimal,” ujar Wawan.

Ia menambahkan, proyek WaterWorx telah memasuki fase kedua dan akan dilanjutkan ke fase ketiga pada tahun ini melalui dukungan pembiayaan dari Pemerintah Belanda, PDAM Tirta Moedal, serta Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) dari Pemkot Semarang.

Sementara itu, Project Manager WaterWorx, Thomas De Jong, mengatakan kerja sama antara operator air minum Belanda dan PDAM Tirta Moedal telah berlangsung sejak 2019 dengan tujuan memperluas akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan berkualitas.

“Kami bekerja sama dengan PDAM Tirta Moedal untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan air minum yang layak. Kebonharjo menjadi prioritas karena kawasan ini terdampak cukup besar oleh penurunan muka tanah,” katanya.

Menurut Thomas, sebelum proyek berjalan sebagian besar warga masih mengandalkan air sumur karena tekanan air PDAM rendah dan kualitas layanan belum memadai. Melalui rehabilitasi menyeluruh terhadap sistem distribusi, kondisi tersebut kini berubah.

“Kami melakukan rehabilitasi sistem secara menyeluruh. Sekarang hampir seluruh warga sudah menggunakan jaringan ini sehingga ketergantungan terhadap air tanah bisa berkurang,” ujarnya.

Selain memperbaiki infrastruktur, kerja sama tersebut juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan bagi pegawai PDAM.

“Kolaborasi ini bukan hanya membangun jaringan pipa. Tetapi juga meningkatkan kemampuan staf PDAM melalui berbagai pelatihan sehingga pelayanan ke depan bisa semakin baik,” pungkas Thomas. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp