“Pondasi pemerintahan itu kepercayaan, bukan sekadar kursi. Karena itu, klarifikasi Jokowi memiliki makna strategis,” kata Hersubeno.
Sementara itu, Gibran tetap fokus menyampaikan agenda publik. Ia terus mendorong literasi kecerdasan buatan di kalangan muda. Hersubeno menilai langkah tersebut belum cukup meredam polemik.
“Narasi politik lebih keras daripada pesan kampus,” ucapnya.
Pada akhirnya, kata Hersubeno, pernyataan Ahmad Ali menjadi pelajaran penting bagi elite politik. Satu pernyataan mampu menggeser peta kekuasaan. Ia menegaskan dampak politik tidak boleh diremehkan.
“Pemilih muda sangat sensitif terhadap simbol dan diksi,” tandasnya. (*)




