SEMARANG, beritajateng.tv – SDN Tugurejo 01 Semarang menutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan beragam kegiatan edukatif yang melibatkan sejumlah instansi dan perguruan tinggi.
Mulai dari pembagian 400 paket buah dan salad, edukasi kesehatan hingga penebaran 300 benih lele dalam program budidaya ikan dalam ember (Budikdamber).
Kegiatan penutupan MPLS yang berlangsung pada Jumat, 17 Juli 2026 diawali dengan pembiasaan pagi berupa pembacaan Asmaul Husna bersama.
Seluruh siswa mengikuti program Gemas Bun (Gerakan Makan Buah dan Sayur Nusantara) hasil kolaborasi SDN Tugurejo 01 Semarang dengan Dinas Pertanian Kota Semarang.
BACA JUGA: MPLS Seru dan Edukatif, Siswa SDN Petompon 02 Semarang Belajar Rupiah hingga Hemat Air
Kepala SDN Tugurejo 01 Semarang, Nur Rakhmat, mengatakan penutupan MPLS sengaja dikemas dengan melibatkan berbagai pihak agar peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.
Dalam kegiatan tersebut, Dinas Pertanian menyalurkan 400 paket buah potong dan salad untuk dibagikan kepada seluruh siswa.
Menurutnya, kolaborasi dengan Dinas Pertanian bertujuan menanamkan kebiasaan mengonsumsi buah dan sayur sejak dini. Yakni di tengah maraknya makanan instan yang banyak dikonsumsi anak-anak.
“Penutupan MPLS kami laksanakan dengan bekerja sama dengan berbagai pihak agar murid merasa nyaman dan aman dalam belajar. Kerja sama dengan Dinas Pertanian juga bertujuan agar anak-anak semakin sehat dan gemar makan buah serta sayur di tengah gempuran makanan yang serba instan,” ujarnya pada Jumat, 17 Juli 2026.
Selain menggandeng Dinas Pertanian, sekolah juga bekerja sama dengan Universitas Diponegoro (Undip) melalui keterlibatan mahasiswa dari berbagai fakultas.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Teknik Lingkungan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik memberikan edukasi kepada siswa mengenai berbagai isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Materi yang tersampaikan meliputi mitigasi cyberbullying, pentingnya mencuci tangan, pengelolaan sampah. Juga kebiasaan menabung, bahaya penggunaan gawai secara berlebihan, hingga memilih tontonan yang ramah anak.
“Kolaborasi dengan Undip juga menjadi bagian dari upaya kami memberikan bekal kepada siswa. Mulai dari edukasi kebiasaan hidup sehat, pengelolaan sampah, bahaya cyberbullying, penggunaan gawai secara bijak, hingga pentingnya menabung,” ujarnya.
MPLS, Penebaran 300 Benih Lele
Sebagai puncak kegiatan MPLS, sekolah menggelar penebaran 300 benih lele ke dalam kolam ember atau Budikdamber. Penebaran secara simbolis oleh kepala sekolah bersama guru, perwakilan orang tua, dan siswa kelas 1.
“Puncak kegiatan berupa penebaran benih lele melalui program Budikdamber kami harapkan menjadi laboratorium belajar yang nyata bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga bisa mengamati dan merawat secara langsung sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual,” kata Nur Rakhmat.
Program Budikdamber tersebut harapannya menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa. Sekaligus laboratorium alami untuk mengenalkan budidaya ikan dan ketahanan pangan sejak usia dini.
Ketua Tim MPLS SDN Tugurejo 01 Semarang, Zumeroh, mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang telah terlibat dalam penyelenggaraan MPLS tahun ini.
“Kami berupaya menghadirkan MPLS yang ramah, menyenangkan, dan penuh pengalaman baru bagi peserta didik. Harapannya, anak-anak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal guru dan teman-temannya, serta memiliki semangat belajar sejak hari pertama,” kata Zumeroh.
BACA JUGA: Meski Hanya Dapat Satu Siswa Baru, SDN 2 Tegalgunung Blora Tetap Gelar MPLS
Ia berharap rangkaian kegiatan selama lima hari dapat memberikan pengalaman positif bagi siswa baru. Sekaligus memperkuat kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Sebelumnya, SDN Tugurejo 01 membuka MPLS dengan tema Piala Dunia 2026, menghadirkan suasana layaknya pertandingan sepak bola melalui kirab siswa, guru berkostum tim sepak bola, hingga pertandingan mini sebagai simbol semangat, sportivitas, dan pengembangan potensi peserta didik. (*)
Editor: Farah Nazila





