Gaya Hidup

Ramai di Medsos, Apa Arti Kata ‘Fatherless’ dan Penyebabnya?

×

Ramai di Medsos, Apa Arti Kata ‘Fatherless’ dan Penyebabnya?

Sebarkan artikel ini
ilustrasi anak ayah
Ilustrasi anak dan ayah. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kata fatherless belakangan ini tengah menjadi perbincangan di media sosial. Namun, tak banyak yang mengetahui apa arti kata tersebut.

Fatherless merupakan istilah yang mengacu kepada kurangnya kehadiran ayah dalam pertumbuhan anak, baik secara fisik maupun emosional.

Indonesia sendiri masuk ke golongan negara dengan tingkat fatherless yang cukup tinggi, yakni 9 persen. Hal ini merupakan data dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada tahun 2021 lalu.

Itulah yang membuat Indonesia disebut sebagai fatherless country. Istilah tersebut berarti negara yang masyarakatnya memiliki kecenderungan tidak merasakan keberadaan dan keterlibatan figur ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis.

BACA JUGA: Ramai Fenomena Fatherless pada Anak Perempuan, Begini Penjelasan Psikolog Unnes

Fenomena tersebut tidak hanya dialami oleh anak yatim saja. Selama mereka memiliki figur ayah yang ‘datang’ dari kakek atau om, maka figur ‘ayah’ ini bisa tergantikan.

Anak yang hidup fatherless juga berisiko mengalami depresi, cemas, hingga memiliki masalah harga diri dan merasa bahwa tidak ada yang menginginkannya.

Penyebab fatherless menurut psikolog

Apa penyebab dari fenomena fatherless ini?

Melansir dari Antara, penyebab fenomena tersebut adalah karena perceraian.

“Salah satu penyebab dari fenomena fatherless memang perceraian atau ayah tidak lagi ada dalam kehidupan anak,” kata Psikolog klinis anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi.

Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 angka pasangan yang bercerai di Indonesia mencapai 463.654 kasus.

Di mana terdapat 10 provinsi dengan jumlah kasus perceraian tertinggi, yakni Jawa Barat 102.280 kasus, Jawa Timur 88.213 kasus, Jawa Tengah 76.367 kasus, Sumatera Utara 18.269 kasus dan DKI Jakarta 17.263 kasus.

Menanggapi dampak buruk perceraian, Vera menekankan bahwa kehadiran sosok ayah dalam kehidupan anak dapat mempengaruhi cara berpikir dan pola perilaku anak saat menghadapi suatu hal.